• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 29 November 2021

     
    Home   »  Siapa & Siapa
     
    Maria Loretha, Mama Sorgum dari Timur
    FERDINAND WATU | Senin, 02 November 2015 | 10:02 WIB            #SIAPA & SIAPA

    Maria
    Maria Loretha

     

     

    MEMPERKENALKAN  sorgum sebagai bahan pangan di Flores bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana. Masyarakat di sini sempat enggan memakan biji sorgum yang mirip jagung karena sudah terlanjur menjadikan beras sebagai makanan pokok selama puluhan tahun.

     

    Adalah Maria Loretha , wanita asal Kalimantan Barat yang kerap disapa Mama Tata ini, menghidupkan kembali budaya pangan lokal di NTT melalui pembudidayaan dan konsumsi sorgum. Pada era Orde Baru, pangan lokal ini “dimatikan” dan digantikan dengan beras – yang ternyata tidak cocok dengan alam kering NTT. Hal ini berujung pada masalah pangan, gizi, kesehatan, dan kemiskinan yang tiada habisnya.

     

    Tempat kediaman Maria Loreta tampak begitu sederhana, hanya berdinding pelupu beratap daun kelapa, lantainyapun hanya tanah tanpa beralaskan semen. Namun dalam kesederhaan rumah justru menyimpan segudang potensi pengetahuan pangan lokal dan produk serta aneka penghargaan terpampang di sana. Di atas dinding pelupu bertengger sejumlah penghargaan baik itu sertifikat maupun piala penghargaaan dari tingkat lokal, nasional, bahkan internasioal.

     

    Menurutnya, NTT  tidak akan rawan pangan jikalau para petani pintar untuk mengolah lahan yang ada, selama ini pengolahan lahan pertanian hanya pada musim tanam pertama, sedangkan musim tanam kedua lahan kosong tidak digarap, pada musim tanam kedua inilah sebenarnya bisa kelola tanaman ini.

     

    Tanaman sorgum dan jewawut serta tanaman ladang kering sangat cocok untuk daerah NTT dan darisisi nilai gizi memiliki keunggulan selain memiliki kadar yang kaya akan kalsium, protein dan karbohidrat yang tinggi, secara ekonomis sangat menguntungkan misalnya beras hitam tidak kurang dari 20 per kg kalau dijual, selain itu juga tanaman lokal ini tanpa pupuk dan sangat  kebal terhadap hama dan penyakit.

     

    Dia melihat sorgum sebagai solusi ketahanan pangan di wilayah yang dikenal miskin di Indonesia. Berkat kerja kerasnya, dia mengembalikan lagi berbagai jenis sorgum di NTT, bahkan mengenalkan tanaman ini ke berbagai wilayah lain di Indonesia yang cocok untuk budidaya tanaman pangan selain beras. Sorgum ternyata juga memiliki keunggulan gizi dibandingkan beras, sehingga berpotensi menjadi solusi bagi masalah pangan di Indonesia.

     

    “Untuk menaungi para petani yang menjadi binaan, saya mendirikan Yayasan Cinta Alam Pertanian Kadiare. Bermula dari desa kecil di timur Pulau Flores, kini ada 34 kelompok tani yang saya dampingi. Mereka tersebar di Ende, Nakegeo, Manggarai Barat, Sumba Timur, Rote Ndao, Lembata, Sikka dan Flores Timur,” katanya, Rabu pekan lalu.  

     

    Dia percaya sorgum adalah kunci ketahanan pangan terutama di Indonesia Timur yang karakter alamnya berbeda dengan Pulau Jawa. Tak semua tempat di NTT cocok untuk menanam padi, padahal perut minta diisi setiap tiga kali sehari. Untuk itu dia mengajak kelompok petani di sekitar untuk ikut menanam tanaman ini.

     

    Kendati dunia pertanian telah diakrabi Loretha semenjak kanak-kanak. tetapi beranjak dewasa, dia  justru memilih belajar hukum di Universitas Merdeka Malang, Jawa Timur.

     

    Loretha mengaku sempat bimbang menentukan arah hidupnya. Dia pernah berkarya di forum perlindungan anak dan perempuan. Namun, itu hanya berlangsung dua tahun. Panggilan hidup sebagai petani terus mengiang di gendang nuraninya.

     

    “Saya merasa lebih nyaman saat bisa membangun interaksi dan relasi yang mesra dengan alam. Tak ada perasaan minder, ketika saya memutuskan menjadi petani,” ujar ibu lima anak ini.

     

    Tahun 1997 ketika krisis ekonomi melanda Indonesia ia pun segera berkemas dan pulang ke Desa Pajinian, Adonara Barat, Flores Timur, tempat asal suaminya. Dia siap bergelut dengan tanah di area seluas enam hektar dan menanam berbagai jenis tanaman pangan.

     

    Sorgum

    Suatu hari di tahun 2007, Loretha diberi sepiring olahan sorgum yang ditaburi parutan kelapa oleh tetangganya. Saat olahan sorgum itu ia makan, Loretha menikmati rasa gurih, enak, serta mengenyangkan. Sontak, hati Loretha girang. Dia pun segera meminta benih sorgum kepada tetangganya itu. Tapi, tak mendapatkan benih itu.

     

    Rasa cinta yang mendalam membuat Loretha terus berburu benih sorgum hingga ke pelosok-pelosok desa. Di sela-sela pencarian itu, dia berupaya membangkitkan minat masyarakat kembali menanam sorgum sebagai pengganti beras.

     

    “Identitas daerah saya adalah sorgum. Jika tidak bisa menghargai identitas sendiri dan justru memilih barang dari luar, apalagi itu tidak cocok dengan tanah yang ada, yaitu sama saja proses memiskinkan,” tutur perempuan kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, 28 Mei 1969 ini.

     

    Sorgum memang jenis tanaman pangan yang telah lama ditinggalkan masyarakat di wilayah Flores, terutama tanaman pangan untuk lahan kering. Tanaman pangan lokal ini sudah kian langka, bahkan sudah lama ditinggalkan masyarakat. “Mencari dan membeli benih sorgum saja susah dan mahal sekali. Padahal tanaman lokal inilah yang cocok dengan lahan daerah kering, seperti Flores,” katanya.

     

    Isteri Jeremias Dagang Letor ini mensinyalir, benih-benih sorgum mulai hilang, karena program swasembada beras pada masa Orde Baru. Pangan lokal seperti sorgum pun menjadi makanan pokok kelas dua, setelah beras. “Padahal sorgum memiliki gizi lebih besar dibandingkan beras,” katanya lagi.

     

    Setelah bertekun dengan pertanian sorgum, pada 2009, Loretha mulai aktif memberikan pelatihan penanaman sorgum. Dia pun gencar berkampanye tentang pemberdayaan sumber pangan lokal, seperti jewawut, jelai, sorgum, dan beras hitam. Dia kerap terlihat berdiskusi hangat dengan para petani. Ada 24 kelompok petani yang sering ia datangi. Kelompok petani ini terdiri dari 214 perempuan, 540 pria, dan 167 orang muda yang tersebar di delapan kabupaten di wilayah Nusa Tenggara Timur: Flores Timur, Sikka, Ende, Nakegeo, Manggarai Barat, Sumba Timur, Kupang, dan Lembata.

     

    Didukung Gereja

    Loretha mengatakan, dalam menjalankan misinya ia selalu didukung Gereja. Dia memang tak segan-segan meminta keterlibatan para pastor dalam mengembangkan sumber pangan lokal. Loretha mengaku, banyak belajar bersama Pator Piet Nong SVD. “Dia salah satu pastor yang turut berjuang mengembangkan kearifan lokal lewat sumber daya pangan lokal,” ujar perempuan yang sedang menyiapkan dua buku tentang sorgum ini.

     

    Dia berharap, para petani sorgum, terutama di wilayah Flores, dapat menikmati hidup lebih sejahtera. Perempuan yang mengagumi sosok Bunda Maria ini mengusulkan, harus ada pabrik pengolahan sorgum di daerah NTT, jangan di bawa ke Jawa. Para petani juga harus bisa bekerja di pabrik-pabrik pengolahan sorgum. Selain itu, petani juga harus membuat koperasi agar bisa hidup lebih sejahtera.

     

    Itulah sosok Maria Loretha, perempuan perkasa dari Desa Pajinian, Adonara Barat, Nusa Tenggara Timur yang tak pernah berhenti berjuang untuk menyejahterakan petani pangan lokal. Tidak salah juga jika banyak kalangan memberinya gelar “Mama Sorgum dari Timur. ”***


     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2021 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.