• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 20 September 2019

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Sorgum Pangan Lokal yang Jadi Pilihan
    FERDINAND WATU | Selasa, 03 November 2015 | 10:03 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Sorgum
    Tanaman Sorgum

     

    SORGUM sudah akrab dan dikembangkan beberapa daerah di Indonesia sejak puluhan tahun silam. Sayangnya, komoditas ini nyaris tidak berkembang. Di tengah ketidakseriusan pemerintah, sejumlah komunitas lokal berbasis petani sudah mengembangkannya secara perlahan.

     

    Adalah Dahlan Iskan. Ketika menjadi Menteri BUMN pada paruh waktu masa pemerintahan Presiden SBY begitu getol mengampanyekan sorgum sebagai pangan alternatif pengganti beras. NTT pun dibidik menjadi lokasi pengembangan yang sangat potesial. Sayangnya, selepas Dahlan, tidak ada lagi yang menindaklanjuti pemikiran bernas tersebut.

     

    Tetapi, jauh sebelum Dahlan, ada Maria Loretha yang diam-diam menjadi pionir pengembangan sorgum di Flores Timur. Maria tak kenal lelah mengampanyekan manfaat sorgum kepada masyarakat setempat dan ke wilayah lainnya di daratan Flores dan NTT. 

        

    Lalu muncul pertanyaan, Sorgum bisa dibuat apa saja? Hasil penelitan di Bogor menurut Enrico Syaefullah dari Litbang Pasca-Panen Kementerian Pertanian dan Ketahanan Pangan RI dalam pertemuan rembug perhimpunan petani pangan lokal (P3L) yang digelar di Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat, akhir September lalu, sorgum memiliki banyak manfaat.

     

    Kalau beras banyak mengandung nutrisi, sorgum memiliki beberapa nilai guna, antara lain: daun dan batangnya bisa untuk pengembangan pupuk kompos, tetapi lebih dari itu cairan batang sorgum bisa diolah untuk pembuatan gula cair, gula kristal, gula semut dan bio etanol. Sedangkan buahnya bisa diolah untuk tepung shorgum yang sangat baik untuk berbagai macam kue. Kandungan gizi sorgum juga sangat cocok untuk anak-anak autis.

     

    Enrico menyitir, problem terbesar di Indonesia adalah logistik, bagaimana barang komoditi semisal sorgum bisa sampai di tujuan. Andaikan harga per kg shorgum adalah Rp 3000, tetapi biaya pengirimannya Rp 10.000 sehingga harga jadi membengkak. Supaya sorgum bisa dipasarkan, harus divakum. Langkah awal adalah memperkenalkan sorgum ke berbagai pihak.

     

    Tingkat kekeringan sorgum untuk pop shorgum pengganti pop corn hanya 12-15 %. Sudah ada ekspor perdana ke Italia. Amerika penghasil sorgum terbesar sehingga harga di sana terlalu murah dari Indonesia. Pemasaran hanya mungkin ke Eropa. Identitas produk perlu dilampirkan agar dikenali oleh konsumen.

     

    Beda petani biasa dan petani pengusaha: petani biasa menjalankan usaha pertaniannya secara alamiah (kurang kreatif) sedangkan petani pengusaha semakin dipacu untuk kreatif. Semua produk dipasarkan dalam keadaan vakum agar awet. Diusahakan agar setiap produk itu dilatari masyarakat asal penghasilnya sehingga konsumen yang datang bisa langsung melihat ke lokasi, agar usaha pangan tersebut bisa menjadi potensi wisata.

     

    Ciptakan agar konsumen jatuh cinta pada pangan lokal. Yang diutamakan adalah adanya jaminan pembelian yang konsisten sehingga bisa menghasilkan secara berkelanjutan. “Tidak ada gunanya jika harga mahal tetapi pembelian sesekali dan jumlah sedikit,” imbuhnya.

     

    Pengalaman bercocok tanam sorgum sudah dibuktikan Kelompok Tani Adobera, Flores Timur.Kelompok ini   dibentuk tahu 2010 lalu. Nama kelompok itu diangkat dari nama leluhur “Adobera” yang anggota-anggotanya merupakan petani.

     

    Menurut Yos Muklin, pada bulan Maret tahun 2014 mereka didatangi Ibu Loreta untuk memperkenalkan sorgum yang sudah lama ditinggalkan masyarakat. Jenis sorgum yang ditawarkan relatif pendek dan unggul dengan usia 3 bulan.

     

    Nah, tantangan yang sering dihadapi petani adalah adalah kondisi alam yang kurang subur dan berbatuan dengan iklim curah hujan yang sangat minimalis. Selain itu, minat masyarakat untuk membudidayakan sorgum juga masih rendah.

     

    “Syukur ada bantuan dari berbagai pihak atau sponsor yang juga memberikan pelatihan budidaya dan olahan pangan lokal serta pemupukan. Untuk itu, kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada Ibu Loreta, yang telah menyemangati kami dalam pengembangan pangan lokal dalam kelompok kami. Juga kepada Ibu Puji dari KEHATI yang sudah mensuport dana bagi pengembangan shorgum dan kegiatan lainnya di Adobera,” paparnya.

     

    Lain lagi dengan pendapat Ibu Marcia dari Balai Penelitian Serelia Kementerian Pertanian di Makasar. NTT ini sungguh diberkati. Kala kekeringan kian menggila, justru memanen sorgum. Apalagi sorgum memiliki kandungan nilai gizi dan kemungkinan olahan yang variatif seperti tepung untuk kue-kuean, dan etanol,” katanya.

     

    Dia menekankan, penanaman sorgum harus secara terpisah, tidak boleh digabung dengan tipe sorgum yang lain. Hal ini sangat penting mengingat sistem pembuahan sorgum itu sangat unik.

     

    Misalkan, ada dua jenis sorgum (Tipe A dan Tipe B) yang ditanam dalam satu lahan yang sama. Pada saat pembuahan, serbuk sorgum dari pohon tipe A bisa membuahi sorgum tipe B. Demikian pun sebaliknya.Jika sudah terjadi pembuahan silang seperti ini, maka hasil buahnya juga nanti menjadi lain dari tipe asalnya.

     

    Begitu uniknya sorgum sehingga Hakim Sitorus, seorang pengusaha bidang pertanian mengatakan, sorgum bisa menggantikan peran gandum, misalnya dalam hal pembuatan roti. Karena itu jangan takut dan jangan malu untuk menanamnya.

     

    “Sorgum sekarang sudah makin dikenal. Pembudidayaannya relatif gampang, tidak terlalu butuh banyak air, apalagi didukung oleh kondisi alam NTT yang cocok dengan sorgum,” tambahnya.

     

    Apun realitanya, yang diperlukan saat ini adalah konsistensi, keberlanjutan dalam pembudidayaan sorgum. Ini untuk kelangsungan rumah tangga, pendidikan dalam keluarga dan aneka kebutuhan hidup keluarga lainnya. Lalu, mengapa NTT tidak beralih saja ke sorgum sebagai pangan lokal pilihan…? ***


     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.