• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 30 November 2020

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Bangun Jembatan Palmerah bukan Karena Gubernur Orang Adonara
    ALBERTUS | Selasa, 03 November 2015 | 10:14 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Bangun
    Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT, Andre W. Koreh

     

     

    Wawancara Kepala Dinas PU NTT, Andre W.Koreh

     

    RENCANA Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membangun Jembatan Palmerah guna menghubungkan Pulau Flores dan Pulau Adonara benar-benar serius. Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT, Andre W. Koreh punya tekad agar tahun 2016 mendatang, pembangunan jembatan tersebut dimulai dan peletakan batu pertamanya atau groundbreakingnya oleh Presiden Joko Widodo.

     

    Seperti apa Andre yang juga Ketua Harian KONI NTT ini memperjuangkan pembangunan jembatan tersebut? Berikut petikan wawancara Albert Vincent Rehi dari Flobamora.net, dengan Mantan Kepala Biro Adminsitrasi Pembangunan Setda NTT itu Jumat lalu.

     

    Apa yang mendorong Anda memperjuangkan pembangunan jembatan tersebut, padahal jika dilihat dari sisi pendanaannya sangat besar? 

        

    Setelah bertemu tim Japan International Coorperetion Agency (JICA) di Jepang tanggal 17 Oktober 2014, serta mempresentasikan rencana pembangunan jembatan itu di depan tim JICA yang dipimpin Shjmokawa Takao, Direktor Southeast Asia Devision 1 (Indonesia) JICA, Bapak Gubernur Frans Lebu Raya bersama saya tak berhenti berjuang sampai di situ.

     

    Pada tahun 2015 langsung dialokasikan dana senilai Rp 1,5 miliar dari APBD I NTT untuk kegiatan pra studi kelayakan pembangunan jembatan itu. Kegiatan pra studi itu berlangsung empat bulan, yang dilakukan PT Puri Dimensi, salah satu perusahaan konsultan asal Bandung.

     

    Ada yang mengatakan, usulan pembangunan jembatan itu karena kedekatan Anda dengan Gubernur Lebu Raya ?

     

    Ah, tidak benar itu. Bapak gubernur malah mewanti-wanti agar ide ini tidak usah diteruskan karena akan menimbulkan pro kontra nantinya. Malah ada yang mengatakan itu kental dengan nuansa politiknya.

     

    Apakah idenya muncul begitu saja ?

     

    (Sambil terseyum) ... Saya terinspirasi karena pada suatu waktu menyeberangi Selat Gonsalu (selat antara Pulau Flores dan Adonara, red) dari Larantuka ke Adonara. Di perjalanan saya berpapasan dengan petani dari Larantuka yang mendayung perahu untuk berladang di Adonara. Sebagai orang teknik naluri saya mengatakan, kenapa antara Flores daratan dengan Adonara tidak dibangun saja jembatan. Jaraknya tidak terlampau jauh. Kan lebih murah dan menguntungkan dari berbagai aspek.

     

    Selanjutnya…

     

    Ide tersebut coba saya  sampaikan ke Bapak Gubernur. Semula beliau menolak, karena akan ada reaksi macam-macam, apalagi  membangun jembatan di Flores Timur yang nota benen kampung halamannya Gubernur NTT. Sebagai orang teknik, saya berpikir ini sebuah peluang plus tantangan. Kita mau bangun itu jembatan bukan karena gubernurnya orang Adonara.

     

    Lalu bagaimana dengan hasil studi kelayakan tersebut?

     

    Sekarang sementara jalan. Bahkan sudah ada laporan pertama dan laporan antara, dan mungkin bulan depan konsultan ini akan menyampaikan laporan akhirnya. Bahkan dari dua laporan ini, tim konsultan sudah melakukan cukup jauh dengan menetapkan titik jembatan ini akan dibangun. Ada tiga lokasi alternatif yang ditentukan tim ini. Tim ini sudah merekomendasikan bentuk atau tipe jembatannya seperti apa. Artinya tim konsultan sudah melewati kajian yang cukup dalam dari berbagai aspek teknis membangun. Sedangkan untuk DID-nya nanti APBN (pemerintah pusat) yang lelang untuk mendapatkan konsultannya.

     

    Hasil studi yang dilakukan tim konsultan dari Bandung ini sangat menentukan kelayakan dari jembatan tersebut dibangun atau tidak. Tetapi melihat laporan awal maupun laporan antara, kemungkinan besar jembatan ini layak dibangun. Bagi saya, pembangunan jembatan Palmerah itu hampir mendekati kenyataan. Dari fenomena yang ada, saya optimis jembatan itu dibangun.

     

    Lalu, bagaimana Jembatan Palmerah akan dikerjakan atau dibangun?

     

    Menurut rencana dikerjakan secara multiyears. Panjang jembatan ini sementara dihitung tim konsultan. Tapi kurang lebih satu kilometer. Sebelumnya kami prediksi sekitar 700 meter. Namun setelah dilakukan prastudi kira-kira bisa sampai satu kilometer.

     

    Tanggapan Pemerintah Pusat terhadap rencana  ini seperti apa ?

     

    Melihat fenomena dan hasil pra studi itu, pemerintah pusat melalui dana APBN juga sudah mengalokasikan anggaran untuk tahun 2016 senilai Rp 10 miliar untuk dilanjutkan studi dan detail engineering design (DID). DID itu berlangsung selama kurang lebih lima sampai enam bulan tergantung tingkat kesulitan.

     

    Hasil pra studi dan hasil DID ini nantinya akan dipaparkan atau dipresentasikan di beberapa calon negara donor, diantaranya JICA dari Pemerintah Jepang dan Pemerintah Prancis. Kita juga akan mempresentasikan hasil pra studi dan DID ini di Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum.

     

    Sebetulnya seperti apa pembiayaan pembangunan Jembata Palmerah ini . Apakah dengan dana sendiri atau butuh negara donor?

     

    Setelah mempresentasikan dihadapan calon negara donor dan Kementrian PU, selanjutnya tinggal menunggu siapa sebenarnya yang membiayai fisik pembangunan Jembatan Palmerah ini. Hasil pra studi sudah ada. DID juga sudah ada. Tapi yang membiayai konstruksinya ada tiga alternatif yang ditawarkan, yaitu JICA dari Pemerintah Jepang, Pemerintah Prancis dan dari APBN sendiri.

     

    Nah, nanti mana yang keluar yah sangat tergantung dari perhitungan negara pendonor. JICA dan Perancis saat ini sama-sama masih menunggu hasil studi. Dan setelah kami presentasi nanti mereka melihat keuntungan apa yang mereka bisa dapat.

     

    Apa keuntungan bagi kita di NTT dengan adanya jembatan itu ?

     

    Bagi NTT keuntungan pembangunan Jembatan Palmerah itu pasti. Bahwa kita (NTT) punya jembatan yang menghubungkan dua pulau, yang menjadi subyek wisata baru, wisata religius, juga terhubungnya sebuah titik antar titik Pulau Flores dengan Pulau Adonara. Itu keuntungan-keuntungan buat kita. Tapi kan bagi negara pendonor mereka harus kaji, keuntungan apa yang mereka bisa dapat dari situ.

     

    Mengapa Anda memilih mempresentasikan rencana ini di JICA?

     

    Kita meminta Jepang untuk membiayai pembangunan Jembatan Palmerah itu karena mereka pernah membangun Jembatan Menu dan Fatuat di NTT. Waktu itu dua jembatan tersebut dibangun murni semua dibiayai JICA. Sementara APBN atau pemerintah Indonesia sama sekali tidak ada biaya.

     

    Nah, karena JICA pernah membangun jembatan panjang di NTT, Menu dan Fatuat, sementara manfaat dari jembatan itu sekarang ini menurut penglihatan kami trafiknya juga tidak terlalu tinggi, maka kita mengusulkan membangun Jembatan Palmerah.

     

    Kami dengar Pak Gubernur sudah mengusulkan jembatan itu nantinya diberi ama Jembatan Pancasila. Benarkan demikian?

     

    Benar… Pak Gubernur sudah mengusulkan kepada presiden untuk mengganti nama jembatan itu sudah ditandatangani gubernur. Jadi, nama jembatan itu nantinya Jembatan Pancasila yang terletak di Palmerah. Sedangkan Palmerah itu sendiri nama tempat.

     

    Walaupun nama Pancasila belum disetujui Presiden Jokowi, tapi secara non formal sesuai informasi Pak Gubernur kepada saya, beliau sudah pernah omong kepada Pak Seskab, Pak Pramono Anung. Beliau sudah dengar rencana ini.

     

    Apa memang menguntungkan memberi nama itu?

     

    Bagi NTT, pengusulan nama Pancasila itu tentu memberi keuntungan tersendiri. Kenapa namanya diusulkan menjadi Pancasila? Itu karena faktor sejarah. Kita tahu bahwa Presiden Soekarno pernah diasingkan ke Ende. Beliau empat tahun di Ende. Ini berdasarkan sejarah. Dan sejarah juga kita membaca bahwa beliau mendapat inspirasi tentang Pancasila itu pada saat diasingkan di Ende.

     

    Jadi usulan ini untuk mengenang  Bung Karno ?

     

    Oh, iya… Ini untuk mengenang Pancasila, untuk mengenang Soekarno pernah diasingkan di Ende. Tanda matanya itu adalah Pancasila. Karena Jembatan Palmerah merupakan jembatan terpanjang yang pernah kita bangun, maka tidak salahnya juga kalau dia menjadi ikon infrastruktur NTT.

     

    Apa ada rencana selanjutnya ?

     

    Kalau rencana ini berjalan mulus, maka tahun 2016, kita akan lakukan groundbreaking pembangunan jembatan itu. Jadi kita sudah mulai dari Desember 2014 Presiden melakukan groundbreaking Raknamo. Desember 2015 ini direncanakan Presiden akan groundbreaking Embung Roktiklot. Nah jembatan ini di rencanakan groundbreaking-nya Desember 2016. Itu kalau tidak ada halangan.

     

    Logika perhitungannya begini, kalau kami sudah siapkan design-nya, katakanlah bulan Juni karena mereka kerjakan enam bulan, Juli-Agustus 2016 prakontraknya, maka November-nya kontrak. Ini perhitungan kasar saya sebagai rencana secara makro. Jadi kami habis pra studi tahun ini, dan dilanjutkan awal Januari 2016 dengan menyusun DID. Itu selesai lima bulan. Lalu bulan Juni-Juli bisa dilelang. Ini kalau rencana ini mulus.

     

    Direncanakan setiap tanggal 20 Desember Hari Ulang Tahun (HUT) NTT ada sesuatu yang monumental yang dilakukan di NTT. Kita sudah mulai dari tanggal 20 Desember 2014, Presiden datang ke NTT melakukan groundbreaking Raknamo. Tanggal 20 Desember 2015 juga sudah dijadwalkan untuk groundbreaking Rotiklot, karena bersamaan dengan Hari Kesetiakawanan Nasional (HKN) tanggal 20 Desember 2015 yang dipusatkan di NTT. Saat itu presiden akan hadir di Kupang sekalian dengan groundbreaking di Rotiklot.

     

    Selanjutnya, tanggal 20 Desember 2016, kalau tidak ada halangan luar biasa, Presiden Jokowi akan melakukan groundbreaking pembangunan Jembatan Palmerah dan salah satu bendungan di Flores, bisa Napung Gete di Sikka atau Bendungan Lambo di Nagekeo. Semuanya tergantung kesiapan, baik kesiapan teknis maupun sosial.

     

    Itu rencana. Kalau Jembatan Palmerah di groundbreaking tahun 2016 mungkin tahun 2018 baru bisa selesai. Pembangunannya bisa berlangsung dua atau tiga tahun, tergantung dari siapa yang melaksanakannya, pembiyaannya bagaimana. Kami Cuma melaksanakan saja.

     

    Kami dengar Anda punya mimpi, jika jembatan ini selesai dibangun peresmiannya oleh Paus Fransiskus?

     

    Siapa saja boleh bemimpi. Termasuk saya. Mimpi itu sangat individual sifatnya. Boleh dong saya bermimpi  peresmian Jembata Palmerah yang akan diganti nama menjadi Jembatan Pancasila itu dilakukan Paus Fransiskus.

     

    Alasannya, jembatan ini juga menjadi ikon Flores Timur dan yang pasti akan mendukung pelaksanaan prosesi Semana Santa setiap tahun di Larantuka yang sudah mendunia. Kenapa tidak kita coba mengundang Bapa Suci untuk hadir.

     

    Hanya saja prosesi itu biasanya menjelang Paskah. Pertanyaannya, apakah jembatan itu sudah selesai? Itu juga belum kita tahu. Kemudian, juga apakah Paskah itu Bapak Suci bisa keluar dari Vatikan? Belum tentu kan.

     

    Tapi untuk kunjungan kerja beliau ke Indonesia dalam rangka membuat perdamaian dunia, maka tidak salah kalau kita coba mengundang Paus Fransiskus untuk meresmikan jembatan itu, dan mendoakannya. Saya kira wajar saja kalau saya bermimpi seperti itu.

     

    Tetapi sekali lagi, sesuatu harus direncanakan. Kalau kita sudah mulai kerjakan, satu tahun sebelumnya kita bisa undang Paus Fransiskus datang. Apalagi Paus kan pernah datang di Maumere. Paus pernah datang di Indonesia. Jadi bisa saja terjadi 2018 kalau kita sudah selesai bangun itu jembatan.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.