• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 21 Agustus 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Pemprov NTT Berupaya Kembalikan Fosil Gajah Purba Flores
    ALBERTUS | Senin, 09 November 2015 | 09:54 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Pemprov
    Ilustrasi Gajah. (Foto : National Geographic)

     

    Kupang, Flobamora.net - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sedang berupaya untuk mengembalikan Fosil Stegodon Florensis (Gajah Purba Flores) dari Museum Geologi Bandung  yang ditemukan di Kawasan Lembah Cekungan Mata Menge,Soa di Kabupaten Ngada, Flores ke Kupang.

     

    Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Sinun Petrus  Manuk kepada Flobamora.net  di Kupang, Senin  (9/11) mengatakan, stegodon yang ditemukan di Flores merupakan spesies gajah purba paling kerdil di Indonesia.

     

    “Ini bukti kalau ada gajah di Flores. Kasus pengerdilan gajah purba di Pulau Flores, menjadi tema menarik karena gajah itu berbeda dengan gajah lain di Sumatera atau Jawa, yang hingga saat ini belum terjawab seutuhnya dengan memuaskan,” kata Manuk.

     

    Menurutnya, bukti tersebut diperkuat lagi dengan ditemukan sejumlah fosil gading gajah. Dengan demikian, keberadaan gajah di Flores tidak bisa  diragukan lagi.

     

    Dia menuturkan, pihaknya sudah bernegosiasi dengan Museum Geologi Bandung agar fosil tersebut bisa dipulangkan ke NTT sebagai tempat asalnya, yang akan didahului dengan nota kesepahaman bersama.

     

    Mengutip Geolog dan Paleontolog dari Universitas Wollongong Australia, Gert van den Bergh, yang yang mendalami penelitian stegodon di Cekungan Soa mengajukan hipotesis lain, Manuk menutarkan, Gajah Purba di Flores menjadi kerdil akibat adaptasi kondisi pulau. Sebab, menurut Gert, di pulau yang kecil tidak diperlukan juga badan terlalu besar karena tak ada pemangsa seperti harimau.

     

    "Sebagai pulau gunung api yang muncul dari dasar laut, Flores terisolasi sejak jutaan tahun silam. Bahkan tatkala permukaan air laut di tingkat terendah pada masa Oligocence (20 hingga 30 juta tahun lalu), daratan Flores tetap terkepung lautan," paparnya.

     

    Dia menguraikan, secara umum pun, sifat dari sebuah pulau yang terisolasi adalah miskinnya biodiversitas. "Jumlah spesies yang ditemukan di Cekungan Soa pun terbatas karena sejak lama Flores adalah pulau yang terisolasi dari dataran besar," jelasnya.

     

    Dia menambahkan, tidak ada jembatan darat yang menghubungkannya ke daratan di Asia atau Australia. Kondisi Flores ini berbeda dengan di pulau-pulau besar Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan yang secara periodik terhubung dengan daratan utama.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.