• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 16 Juli 2020

     
    Home   »  Gaya Hidup
     
    Kanker Menyebar, dari Alternatif Kembali ke Medis
    ANA DEA | Minggu, 16 Februari 2014 | 10:39 WIB            #GAYA HIDUP

    Kanker
    lustrasi pemeriksaan payudara dengan menggunakan alat mamografi

     

     
    Jakarta, Flobamora.net - Penyangkalan juga kekhawatiran menyebabkan tak sedikit wanita yang terdiagnosis kanker payudara beralih ke pengobatan alternatif. Sebagian pernah mendapatkan pengobatan medis, sebagian lagi sama sekali tidak menjalani pemeriksaan lanjutan dan mencari jalan pintas. Alih-alih mendapatkan solusi, kanker justru menyebar hingga semakin memburuk.

    Spesialis onkologi Bayu Brahma dari Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi mengatakan pasien diagnosis kanker kerap mencari jalan pintas karena ketakutan.

    "Padahal mereka orang yang berpendidikan, pintar," ungkapnya saat workshop edukasi publik kanker payudara di Rumah Sakit Mayapada, Jakarta Selatan, Jumat (14/2/2014).

    Menurutnya, pasien yang beralih ke pengobatan alternatif atau yang langsung mencari jalan pintas ini cenderung tidak menerima terkena kanker, selain tidak mau melakukan pemeriksaan.

    Penyintas kanker payudara dan pendiri Pink Shimmerinc, Dinda Nawangwulan sependapat. Menurutnya, banyak pasien mencari pengobatan alternatif untuk kanker. Meski begitu, umumnya pasien akan kembali ke pengobatan medis.

    "Biasanya saat kanker menyebar, mereka kembali ke medis," ujarnya pada kesempatan yang sama.

    Inilah yang dialami Rosmaya, penyintas kanker payudara. Maya, panggilan akrabnya, memeriksakan diri ke ahli onkologi saat menemukan benjolan di payudara kanan. Ia menolak anjuran operasi. Alih-alih operasi kanker payudara stadium dua, Maya justru mencari pengobatan alternatif selama dua tahun. Bukan sembuh yang didapat, kanker payudara Maya justru naik menjadi stadium empat.

    "Saya jadi tidak bisa berjalan, setelah dites, ada metastasis tulang dan paru. Saya menjalani kemoterapi, radiasi, terapi hormonal, hingga mastektomi pada 2010," katanya.

    Penyangkalan bukan hanya terjadi saat dokter menganjurkannya melakukan operasi. Sejak awal mengetahui adanya benjolan di payudara, Maya mengaku tak lantas memeriksakan diri.

    Beda kisahnya dengan Dinda. Begitu terdiagnosis kanker payudara stadium satu, meski awalnya merasa takut menjalani berbagai pemeriksaan dan pengobatan. Dinda menjalani prosedur  medis untuk mencari solusi mengatasi kanker payudara.

    "Dukungan keluarga dan orang-orang di sekitar yang berpikir positif sangat penting. Keluarga terutama kakak saya sangat mendukung saya melakukan pemeriksaan dan pengobatan apa pun. Orang-orang di sekitar saya juga memiliki pandangan yang positif sehingga saya lebih percaya diri menjalani semuanya," ungkap Dinda.

    Bentuk dukungan
    Dukungan dari orang-orang terdekat memang menjadi penentu keberhasilan penderita kanker payudara menjalani pemeriksaan dan pengobatan.

    Tak mudah bagi wanita begitu mendapatkan diagnosis terutama saat harus membuat keputusan mengangkat payudara atau mastektomi. Kehilangan payudara apalagi untuk wanita muda dan belum menikah, seperti saat Dinda terdiagnosis kanker payudara, bukan perkara sederhana. Belum lagi harus menjalani kemoterapi dengan dampak kebotakan yang semakin menampakkan perubahan drastis kondisi fisik.

    Berbagai kondisi inilah yang membuat penderita kanker payudara membutuhkan dukungan moral kuat dari orang-orang di sekitarnya. Selain dukungan dana yang juga menjadi kendala utama pasien kanker.

    Dinda mengatakan dana yang besar untuk pengobatan kanker memang menjadi kendala. Teknologi semakin canggih, baik dalam pemeriksaan hingga pengobatan kanker, menuntut biaya tinggi. Meski begitu, menurut Dinda, yang paling penting adalah kemauan untuk berobat dan melawan rasa takut.

    "Wanita jangan merasa down. Teknik pengobatan medis semakin canggih. Pengangkatan payudara tidak harus selalu dilakukan. Bisa angkat tumor dengan menambah terapinya, memperbanyak kemoterapi atau terapi berkala lebih banyak," ungkapnya.

    Dinda menyarankan untuk tidak beralih ke alternatif saat mencari solusi kanker payudara. Jika pun dana menjadi kendala dalam pengobatan medis, penderita kanker perlu meyakini mampu mencari solusi.

    "Setelah treatment kita perlu survive. Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Jangan jadi orang Indonesia yang manja dan hanya mengandalkan donasi saja," tutur wanita yang menginisiasi kelas tata rias wajah bersama komunitasnya tersebut.

    Melalui komunitas Pink Shimmerinc, Dinda juga Maya, kerap berbagi pengalaman juga membuka wawasan para penderita kanker untuk melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan. Memberikan edukasi terutama mengenai deteksi dini menjadi fokus kegiatan Dinda dengan menggandeng berbagai pihak, salah satunya Tahir Foundation melalui Rumah Sakit Mayapada yang memberikan pemeriksaan USG atau Mamografi gratis kepada peserta Workshop Peduli Perempuan Indonesia.

     


    Sumber: Kompas.com
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.