• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 04 Juni 2020

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Membaca dan Menulis, Fondasi untuk SDM Berkualitas
    ALBERTUS | Rabu, 25 November 2015 | 13:52 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Membaca
    Frans Sarong

     

    MENJADIKAN Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai provinsi literasi pertama di Indonesia mendapat respons dari pengamat sosial budaya, Frans Sarong.

     

    Baginya, menumbuhkan  minat baca  mestinya dibarengi dengan minat menulis. Itu sangat perlu.  Sebab, pengayaan wawasan atau usaha membentuk SDM berkualitas fondasinya adalah dari minat membaca yang  dikuti dengan minat menulis.

     

    Lalu muncul pertanyaan menggelitik, mengapa minat baca di negeri atau daerah ini merosot ? Sejauh yang kita lihat, karena perhatian terhadap infrastruktur diabaikan. Padahal, seharusnya minat baca ditumbuhkan setidaknya mulai dari tingkat sekolah dasar.

     

    “ Coba kita lacak sekolah dasar di NTT.Hampir seluruhnya tanpa memiliki perpustakan yang didukung bahan bacaan yang memadai. Ini persoalan serius buat kita. Aneh, jika ada sekolah tanpa fasilitas perpustakaan,” kata Frans, Kamis lalu.

     

    Dengan kondisi seperti ini, jelas tidak akan merangsang  siswa untuk untuk memulai membaca. Lantas yang menjadi pertanyaan kita lagi, mengapa sekolah tanpa perpustkaan? Mungkin karena keterbatasan dana atau juga karena ketidakpedulian kita menghadirkan perpustakaan di sekolah.  Sangat mungkin karena dananya terbatas.

     

    Mestinya, sekolah melakukan terobosan. Banyak lembaga  di Indonesia yang bersedia membantu pengadaan perpustakaan plus menyiapkan buku-buku di sekolah. Misalnya, Kelompok Kompas Gramedia. Asal dikomunikasikan dengan baik, pasti dibantu.Ini sudah dilakukan di sejumlah daerah. Barangkali ini adalah titik awal yang perlu mendapat perhatian serius untuk membangkitkan minat baca.

     

    Di sisi lain menurut wartawan Harian Umum Kompas ini, agak sulit kita menegaskan, minat baca masyarakat kita rendah. Mungkin hasil risetnya bisa demikian. tetapi yang harus menjadi perhatian ialah bagaimana membangkitkan minat baca itu.

     

    “Saya sendiri secara tidak sadar menemukan satu kiat minat baca itu bisa muncul secara spontan. Langkahnya dengan menjebak masyarakat dalam satu polemik tentang sebuah tema yang mengharuskan mereka mencarikan itu sebagai bahan bacaan. Ketika mereka terjebak dalam situasi penasaran. Ini yang mendorong orang untuk membaca.,” paparnya

     

    Dia mencontohkan, buku Serpihan Budaya NTT karyanya sendiri. Buku itu sempat laris manis  dipasaran pascapeluncuran,  Ini lantaran muncul sebuah tema besar dan dipublikasikan.Publikasi itu mempertentangkan seolah gereja sebagai monster yang memberangus kearifan lokal.Setelah ditelusuri, ternyata salah pendekatan di masa lalu.  Ketika masyarakat diperhadapkan dengan satu kondisi tersebut akan tumbuh keingintahuan.Itu bisa terpenuhi dengan membaca .  

     

    Kemudian, minat baca dan menulis di kalangan generasi muda, harus ditumbuhkan  sejak dini. Kalau saat ini generasi muda lebih akrab dengan sosial media, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kebangkitan sosial media yang sangat luar biasa dewasa ini.

     

    Kenapa para siswa akrab dengan  gadget dan lebih senang up date status di media sosial daripada menikmati buku? Itu karena sekolah-sekolah tidak menyediakan bahan bacan yang memadai. Sekolah harus membiasakan siswanya untuk membaca.  Siswa diberi kesempatan untuk membaca di perpustakaan, kalau perlu dengan tuntunan. Sekarang realitasnya para siswa hanya mengandalkan mata ajaran oleh guru tanpa didukung perpustakaan yang memadai. Harus ada ketersediaan buku-buku di  sekolah.

     

    Dia menyarankan tidak perlu adanya regulasi yang mengikat siswa. Kultur membaca yang perlu dibangun atau didorong. Orang mungkin masih ingat, hingga tahun 70-an dengan bahan bacaan yang sangat terbatas, siswa diberikan waktu membaca bahkan dengan suara yang nyaring. Setelah membaca, ada manfaat ganda, selain ada pesan yang disampaikan melalui bahan bacaan, siswa secara tidak langsung menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar.Kiat seperti ini, membiasakan siswa untuk mengingat kembali akan apa yang mereka baca tadi.

     

    “Belakangan ini perkembangan teknologi tidak terhindarkan.Itu sangat ditentukan oleh kebiasaan yang harus diterapkan di sekolah. Kultur membaca harus dikembalikan. Dengan demikian siswa tidak terjebak dalam kondiisi seperti itu dengan mengabaikan bahan bacaan,” tambahnya.

     

    Di tengah perkembangan  dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesatnya, tradisi membaca di kalangan siswa mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas harus dipulihkan dan dikembangkan lagi. Artinya, siswa benar-benar harus dirangsang kecintaanya untuk membaca buku.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.