• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 30 November 2020

     
    Home   »  Olahraga
     
    Ende, Bung Karno dan Bola, Sebuah Inspirasi di Bawah Sukun Ajaib
    YOSS GERARD LEMA | Kamis, 03 Desember 2015 | 12:26 WIB            #OLAHRAGA

    Ende,
    Patung Bung Karno di Taman Permenungan Pancasila Ende

     

     

    PULAU FLORES selalu ada kaitan dengan negara Timor Leste. Begitu erat, lekat dan kuat. Apalagi menyebut nama daerah Sikka dan Larantuka di ujung timur Pulau Flores. Bangsa Portugis membentuk masyarakat di Sikka dan Larantuka menjadi manusia katolik sejati.Dari dua daerah inilah barulah seluruh manusia Flores dari timur ke barat memeluk agama katolik. Dari dua daerah ini pula bangsa Portugis melebarkan sayap iman katolik ke pulau Timor, persisnya ke daerah  Oecusse di Ambeno,  selanjutnya ke Kefamenanu dan Atambua, bahkan menjangkau hingga ke  Dili dan seluruh Timor Leste.

     

    Karenanya, bila hari ini Pulau Flores dijuluki sebagai Gerbang Vatican di Indonesia dengan ciri utama ribuan menara gereja berbanjar hingga pelosok terpencil, realita ini sama persis dengan kondisi di negara Timor Leste yang sejauh mata memandang hanya tampak barisan menara gereja dengan suara lonceng berdentang. Tanggal 27 September 2015 nanti perayaan peringatan 500 Tahun Gereja Katolik Di Timor Leste akan dipusatkan di daerah enclave Ambeno (Oecusse) yang merupakan tempat pertama para misionaris katolik dari Portugis menginjakkan kaki di Timor.

     

    Ikatan inilah yang menyebabkan pasca peristiwa politik September 1999 yang ditandai dengan eksodus besar-besaran warga Timor Leste  ke Timor Barat merupakan hari baru bagi sebagian dari mereka yang kini menetap di seluruh daratan Flores.  Mulai dari Manggarai, Labuan Bajo, Manggarai Timur, Bajawa, Nagakeo, Ende, Maumere, Larantuka, Adonara, Lembata dan Solor bisa dipastikan ada warga ex-Timtim asal Timor Leste. Mereka umumnya berprofesi sebagai TNI/Polri atau pegawai negeri atau aneka profesi lainnya.

              

    Namun ketika saya  menapakkan kaki di Ende pada 12 November 2015 yang lalu,  justru realitanya lebih menarik lagi. Di kota ini bukan hanya tentara dan polisi  atau pegawai negeri sipil asal Timor Leste yang dijumpai, wisatawan dari negara  Portugal dan bangsa eropa pada umumnya pun bertandang ke kota ini. Daya tarik Danau Tiga Warna Kelimutu (merah, putih dan biru) begitu kuat.Ragam budaya dan makanan khas Ende Lio sepeti uwiai  ndota (ubi cincang) telah menyita perhatian wisatawan.Begitu juga rumah tempat kediaman, serta Taman Permenungan Bung Karno yang berada di bibir pantai menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

     

    Semua daya tarik tersebut menggelitik hati saya untuk kembali menelusuri Ende, merekam geliat kota itu dan mencoba membedah jalan sejarah negara Indonesia yang sesungguhnya bermuara di Kota Ende. Bung Karno diasingkan Belanda ke Ende selama beberapa tahun di era 30-an. Dia tinggal di jalan Perwira, lokasinya tak jauh dari pesisir pantai. Pengikutnya kebanyakan  nelayan, muslim, sekitar 99 orang. Sang proklamator juga berteman dengan para pastor katolik berkebangsaan Belanda. Ia suka berdiskusi dengan para rohaniwan mengenai  berbagai isu hangat yang tengah melanda dunia.

     

    Yang pasti di kota Ende inilah  ilham dan inspirasi Bung Karno berkembang dengan sempurna. Ia membuat sejumlah simulasi tentang kerukunan dan toleransi dengan para pengikutnya. Ia bahkan menulis sebanyak 43 naskah drama. Sebagian naskah tersebut ia pentaskan  di Gedung Imaculata milik Gereja Katolik. Salah satu naskah dramanya berceritra tentang Kemerdekaan Indonesia.Bahkan butir-butir Pancasila yang menjadi Dasar Negara Indonesia dilahirkan Bung Karno di Kota Ende.Inilah sebuah pencapaian permenungan yang teramat istimewa dan sempurna.Panca Sila adalah dasar negara, pandangan hidup berbangsa dan bernegara, roh, jiwa dan visi besar bangsa Indonesia.

     

    Taman Renungan Bung Karno

     

    Sebagai Bumi Pnca Sila maka selama berada di Ende saya berkenan menyempatkan diri mengunjungi Taman Renungan Bung Karno,  letaknya tak jauh dari bibir pantai. Taman ini memiliki tiga belas pohon beringin berukuran besar, satu pohon gula  rindang bercabang banyak, serta sebatang pohon lontar dengan postur menarik. Praktis taman seluas sekitar satu hektar itu menjadi sangat teduh karena dipayungi kerindangan pepohonan.

     

    Di pojok taman terdapat sebuah kolam berair dangkal dengan ukuran sekitar 50x10 meter, diatasnya terdapat bangku panjang. Di sanalah, di ujung kiri bangku itu, duduk dalam posisi khas, sambil berpangku kaki, berpangku tangan, berkopiah, replikasi Bung Karno tampak seperti hidup. Sorot matanya tajam menatap ke laut lepas, membentur  Pulau Ende di kejauhan.  Persis di sebelah kiri posisi duduk Bung Karno terdapat sebatang pohon Sukun yang terbilang lumayan rimbun.

     

    Seluruh warga kota Ende tahu riwayat sukun istimewa ini. Semua beranggapan sukun itu berbeda dari berbagai pohon sukun lainnya. Ini sukun sejarah. Sukun yang diyakini akar, batang, cabang, ranting, daun, bunga dan buahnya menyimpan  ilham. Tanah tempat sukun itu tumbuh pun dipandang istimewa. Begitu pula kerindangannya diyakini telah menghasilkan iklim mikro yang memberikan kesegaran spesifik bagi Bung Karno sehingga cakranya terbuka dan menghasilkan ilham dan inspirasi yang tak ternilai. Ya, dibawah pohon sukun inilah, Bung Karno menemukan saripati nilai-nilai kebangsaan yang menjadi dasar negara. Panca Sila, Roh Tuhan bersemayam didalamnya.  

     

    Stevi So,  penjaga Taman Permenungan Bung Karno, dalam obrolan dengan sejenak menyebutkan taman ini selalu ramai di kunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Mereka selalu berpose di taman, terutama di depan replikasi Bung Karno. “Tiap hari taman ini selalu ramai.Wisatawan datang dari berbagai negara.Yang dari luar Ende juga banyak.Ya, anak muda yang sedang pacaran juga nongkrongnya disini. Coba nanti datang sore atau  malam tempat ini penuh pengunjung,” ucap Stevi So, pegawai Dinas Pariwisata yang pernah menetap di Dili, di daerah sekitar Comoro.

     

    Ketika tau yang ngobrol dengannya adalah pernah berada di Dili,  Stevi terlihat sumringah. Ia lantas bernostalgia tentang masa lalunya di Dili, termasuk ketika mengeluarkan  barang-barang milik bosnya jelang jajak pendapat pada September 1999 silam. Ia juga mengaku kenal dengan warga ex-Timtim asli Timor Leste yang kini menjadi prajurit TNI/Polri yang bertugas di Ende.

     

    “Ada beberapa keluarga asli Timor Leste di Kodim dan Polri.Ada banyak juga yang PNS.Kantor mereka dekat dengan taman ini, biasanya mereka santai bersama keluarga disini dan kami biasa ngobrol,” ucap Stevi yang mengaku senang menjalani profesinya sebagai penjaga Taman Permenungan Bung Karno.

     

    Benar, ketika agak malam saya  menyempatkan diri bertandang ke taman ini, panorama yang tersaji begitu menarik. Yang muda yang bercinta. Pasangan muda, umumnya para ABG mempertautkan  hati, mengayam asmara dan menggoreng birahi dalam belanga hasrat yang berasap. Asyiik masyuk ABG Ende mengingatkan saya akan panorama hasrat dalam belanga Taman Nostalgia, Kupang. Panorama  yang sama juga bisa ditemukan di sepanjang bibir pantai Dili. Para muda berasyik masyuk, saling dekap,  saling lumat. Bagi saya inilah  aksen pemanis kota yang menandakan betapa Ende, Kupang atau Dili berada pada lintasan gaya anak muda masa kini.  Wuaaaah…!!

    Gila Bola                                                                                          

     

    Apa hubungan Bung Karno dan Bola? Ini yang belum dibahas siapapun.Inilah jawaban dari teka-teki kenapaorang Ende gila bola?Ketika hari kedua berada di Ende semuanya jawaban terkuak ke permukaan. Geliat kotamemberi sinyal yang jelas.Bagaimana tidak, di jalan-jalan orang berbondong mencari tumpangan untuk berangkat ke Maumere. Laki perempuan, tua muda, bahkan kakek-kakek pun tak mau ketinggalan untuk mendatangi kota Maumere. Kenapa? Mereka ingin menyaksikan partai final  El Tari Memorial Cup  antara Perse Ende dan PSM Maumere. Ini partai hidup mati, ini soal harga diri, ini soal nama baik Ende. Suasananya begitu heroik.

     

    Konon, bupati Ende mewajibkan lima orang dari setiap instansi harus ke Maumere untuk menonton pertandingan. Ternyata yang berangkat bisa setengahnya, bahkan mungkin seluruh pegawainya. Mereka menumpang bus, truk, mobil open cup, motor, dll. Bupati Ende Marsel Petu, para pejabat, kalangan dewan pun berbaur bersama penggila bola lainnya dan menonton pertandingan tersebut secara live.

     

    Riwayat masyarakat Ende menjadi penggila bola sudah sejak dulu.Padahal Perse Ende bukan sebuah kesebelasan yang hebat. Prestasinya di jagad sepakbola NTT biasa-biasa  saja. Jarang Perse menjuarai suatu turnamen.Tapi Perse Ende sangat terkenal.Suporter Ende selalu membuat kehebohan. Mereka bisa lakukan apa saja untuk mendukung kesebelasannya. Mereka berteriak histeris, bahkan berguling-guling, menangis, bahkan nekat melakukan adu jotos dengan supporter lawan.Dalam suatu kesempatan seorang bupati Ende bahkan sampai sambil memeluk tiang gawang karena Perse kalah.Penonton asal Ende lainnya ikut-ikutan menangis bersama bupatinya.Gilaaaa.

    Konon, dalam setiap even pertandingan PERSE selalu ada orang yang rela menjadi  sponsor. Misalnya untuk pembuatan seragam  gratisbagi supporter. Konon, suporter Ende dijuluki  Laskar Kelimutu. Mereka dikabarkan mendapat jatah bensin gratis, mobil gratis dan makan minum gratis selama berada di Maumere.

     

    Lantas apa yang menyebabkan supporter Perse begitu heboh. Di taman permenungan Bung Karno inilah saya meyakini semuanya ada kaitkannya dengan Bung Karno, Sang Proklamator.  Kok bisa?Ya, iya, bisa. Seorang teman menyebutkan  Bung Karno di masa mudanya juga seorang pesepak bola.  Ia hebat dalam mengocek bola, apalagi jika lawannya adalah sinyo-sinyo Belanda. Timnya selalu menang.

     

    Selain itu, Bung Karno adalah seorang orator besar. Setiap dia berdiri di podium, umumnya di lapangan sepakbola,  selalu menimbulkan histeria massa. Ia mampu membakar semangat dan membangkitkan gairah rakyat akan mimpi-mimpi besar bangsa Indonesia.  Ternyata, tempat Bung  Karno duduk merenung di bawah pohon sukun dengan sorot mata menghadap ke laut lepas  adalah sebuah lapangan sepakbola. Ya, lapangan Perse Ende itu. Di lapangan Perse Ende inilah  Bung Karno  melahirkan gagasan besar bagi perjalanan nasib bangsanya. Terbukti, betapa erat hubungan Bung Karno dan lapangan Perse Ende.Aura Bung Karno yang maha dahsyat itulah yang kini menjadi jiwa atau roh  suporter Perse Ende.

     

    Apakah Perse Ende juara?Ternyata tidak.Dengung dan gaung dukungan yang luar biasa dari rakyat Ende cuma bisa mengantarkan Ende sebagai runner up El Tari Memorial Cup Tahun 2015. Di hadapan ribuan pendukung yang datang dari Ende, Perse menyerah kalah 1-2  dari Maumere. Syukur mereka tidak membuat insiden dan pulang dengan kepala tegak, penuh percaya diri. Mereka yakin pada El Tari Memorial Cup Tahun 2017 yang akan berlangsung di Ende mereka akan menjadi pemenang. Mungkin.

     

    Itulah Ende, Bung Karno dan Bola. Salam dan doa dari jantung Kupang kota Karang. Amiiiin…..!!!***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.