• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 02 Juni 2020

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Kabupaten Kupang dan Potensi Peternakan
    ALBERTUS | Senin, 07 Desember 2015 | 14:07 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Kabupaten
    Ternak Sapi

     

    KABUPATEN Kupang memiliki Luas wilayah kurang lebih 5.431,21 kilometer persegi. Batas administrasi Kabupaten Kupang sebagai berikut , utara dengan Kota Kupang, Laut Sawu dan Selat Ombai; sebelah Selatan dengan Laut Timor; sebelah Timur dengan Distriik Oekusi-Negara Timor Leste, Kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor tengah Selatan; Sebelah Barat dengan Selat Pukuafu, Kabupaten Rote Ndao dan Laut Sawu.

    Letak yang demikian strategis, wilayah Kabupaten Kupang yang terdiri dari 24 Kecamatan ini menyimpan sejumlah potensi sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk kemajuan sekitar 297.402 Ribu jiwa warganya. Belum lagi, Kabupaten Kupang memiliki kualitas sumber daya manusia (SDM) yang bisa diandalkan untuk mengelola potensi di wilayah itu.

    Keunggulan lain Kabupaten ini adalah memiliki pimpinan yang mempunyai kepedulian akan rakyatnya. Ayub Titu Eki. Sosok pekerja keras, pemimpin yang memiliki terobosan, ide kreatif dalam membangun daerahnya, Kabupaten Kupang. Bupati yang saat ini menjalani dua periode kepimpinannya dinilai banyak kalangan sebagai pribadi yang jujur rendah hati, lurus ditangannya, Kabupaten Kupang melahirkan berbagai program yang memberi manfaat ganda bagi rakyat di daerahnya. Contoh saja program tanam paksa-paksa tanam. Program yang diluncurkan pada periode pertama kepemimpinannya itu kini telah dirasakan manfaatnya oleh warga Kabupaten Kupang.

    Salah satu mimpi Bupati Titu Eki adalah menjadikan Kabupaten Kupang sebagai Kabupaten penghasil ternak di NTT. Apalagi Kabupaten Kupang telah memiliki sejarah panjang sebagai daerah penghasil ternak terbesar di provinsi ini. Secara khusus, Bupati Kupang ini mengungkapkan mimpinya menjadi Kabupaten Kupang sebagai daerah penghasil ternak di provinsi 566 pulau ini. Dia menuturkan bahwa berdasarkan literul dan tulisan tempo dulu yag pernah dibacanya, masyarakat Kabupaten Kupang sudah membangun hubungan dagang dengan luar negeri.

    Hal itu ditandai dengan seringnya mengekspor hasil bumi seperti cendana, madu, dammar dan tentunya ternak. Hasil-hasil bumi itu diangkut dari 12 pelabuhan yang ada di wilayah Kabupaten Kupang. Namun sayangnya, setelah hasil bumi asal Kabupaten Kupang itu dibawa ke luar negeri, produk yang dihasilkan tersebut tertulis made in germane.

    Pada dekade pertama masa pendudukan Hindia Belanda, negara itu hanya memikirkan bidang ekonomisme negaranya sendiri, dengan membawa pulang hasil hutan dari Pulau Timor. Di bidang peternakan, Belanda juga ikut memikirkan upaya memelihara ternak babi, kerbau maupun ternak sapi. Namun, kata Ayub, upaya pengembangan kerbau dan babi lebih lamban, membuat masyarakat di daratan Timor lebih berminat pengembangan ternak sapi. Dan hingga saat ini upaya pengembangan ternak sapi merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Kupang pada khususnya, dan masyarakat daratan Timor pada umumnya.

    Perkembangan sapi Timor di Kabupaten Kupang terus meningkat. Peningkatan ini juga disebabkan karena mesyarakat melakukan pengembangbiakan adat istiadat. Dari hasil usaha ternak sapi, pada tahun 1938, Kabupaten Kupang pernah mengekspor sapi timor perdana ke Hongkong sebanyak lebih dari 3000 ekor.

    Melihat pesatnya perkembangan sapi Timor, pada tahun 1954, Pemerintah Indonesia bersama Belanda membentuk IKAF di Kuanino untuk membuka pabrik daging sapi. Pabrik tersebut tidak maksimal karena masyarakat lebih suka untuk mengekspor sapi hidup.

    Pada zaman Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dideklarasikan sebagai gudang ternak sapi untuk Indonesia. Sejak itu, populasi ternak sapi terus meningkat, terutama di wilayah Kabupaten Kupang. Pengantarpulauan sapi terus dilakukan, terutama kesejumlah wilayah wilayah di Indonesia, ke Sulawesi, Kalimantan, Jawa tanpa adanya kebijakan dari pemerintah untuk melakukan pengembangbiakan sehingga mutu dan jumlahnya ternak sapi tetap terjaga dan terus meningkat.

    Memasuki tahun 1990-an, populasi ternak di NTT terutama di Kabupaten Kupang mulai menurun. Untuk mengembalikan Kabupaten Kupang sebagai daerah ternak, Bupati Kupang dua periode ini telah menjalankan berbagai program dan kebijakan di bidang peternakan, khususnya untuk meningkatkan populasi ternak sapi. Dari hasil pendataan yang dilakukan tahun 2009, jumlah ternak sapi di Kabupaten Kupang tersisa sekitar 170 ribu ekor. Jumlah ini semakin menurun dan berdasarkan data terakhir tersisa 150 ribu ekor.

    Masalah kekeringan dan kepanasan dan kekurangan air serta pakan menjadi penyebab menurunnya populasi ternak sapi di Kabupaten Kupang. Selain itu terjadi permainan pasar dengan menekan harga jual yang dapat memperkecil minat masyarakat untuk memelihara ternak sapi. Masyarakat kita tidak cermat untuk melihat hal ini, yang membuat masyarakat kurang berminat untuk usaha ternak sapi,ungkap Titu Eki.

    Berbagai kebijakan yang dilakukan Pemkab Kupang untuk kembali meningkatkan populasi ternak sapi di Kabupaten Kupang mendapat dukungan dari DPRD Kabupaten Kupang sebagai mitranya, terutama dalam hal pendanaan. Salah satu peluang adalah terbukanya kerjasama antara Pemprov NTT dan DKI Jakarta dalam hal penyediaan daging sapi warga DKI.

    Salah satu terobosan Titu Eki dalam upaya pengembangan ternak sapi adalah menyiapkan lahan seluas sekitar 400 hektare sebagai kawasan pengembangan atau ranch. Penyiapan lahan khusus itu untuk memudahkan mengembangbiakankan sapi secara modern mulai dari teknologi pakan ternak, pembibitan hingga penggemukan denga bekerjasama dengan LIPI. Dengan cara tersebut, Bupati Kupang ini berharap bisa mendapat sapi yang memiliki kualitas ekspor.

    Daerah lain di Kabupaten Kupang juga akan menyiapkan mini ranch untuk jangka lima tahun kedepan. Hal itu dilakukan karena selama ini masyarakat melakukan pengembangbiakan ternak sapi dengan cara melepaskan di hutan dan hal itu perlu dlakukan perubahan perilaku. Lahan tersebut nantinya akan disiapkan untuk pengembangan bibit sapi kopel, pengemukan dan penyelamatan sapi betina produktif. Untuk pengembangan sapi kopel, dirinya tekah pemerintah mengeluarkan dana dari ABPD Kabupaten Kupang serta bantuan pemerintahan Provinsi serta pemerintah pusat senilai Rp 1,5 miliar.

    Ke depan, lanjut dia, jika hal itu berhasil dirinya memiliki cita-cita untuk membangun pabrik pembekuan daging sapi di Kabupaten Kupang. Dirinya berharap pabrik tersebut nantinya menjadi pabrik terbesar di Indonesia Timur.***

     


    Sumber: Humas Pemkab Kupang
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.