• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 25 Oktober 2020

     
    Home   »  Travel
     
    Lebih Dekat dengan Desa Wisata Waturaka
    FERDINAND WATU | Kamis, 24 Desember 2015 | 07:53 WIB            #TRAVEL

    Lebih
    Seorang wisatawan manca negara sedang belajar menanam padi di Waturaka

     

     

    Ende, Flobamora.net - Kelimutu tentu sudah akrab di telinga warga Flobamora. Telaga tiga warna yang tersohor menjadi salah satu keajaiban dunia ini menarik 50-an ribu wisatawan tiap tahun.

     

    Setiap orang yang menikmati kelimutu tentu tidak bisa “menghindar” dari Desa Waturaka. Siapa yang pergi ke Kelimutu tentu melewati Waturaka.  Yah, Waturaka. Desa yang terletak di bawah kaki Gunung Kelimutu ini penuh dengan aneka pesona alam dan potensi wisata. Apa dan bagamana tentang Desa Wisata Waturaka, simak penjelajahan Flobamora.net.

     

    Lantas apa yang wisatawan lakukan selama di Waturaka? Aksebilitas yang dekat dengan Kelimutu, letak yang sangat mudah dijangkau, panorama yang indah dipandang mata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk menghabiskan masa liburan bersama warga lokal di Desa Waturaka. Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan ketika wisatawan berkunjung ke Desa Waturaka yang berjarak 45 km dari Ende.

    “Wisatawan yang datang biasanya melihat kebun petani. Mereka melihat aktivitas petani pergi ke sawah, memetik tomat atau buah langsung di kebun, bahkan kami juga sudah menyediakan informasi lengkap seperti budidaya tanaman padi sejak dari proses awal menamam, mengetam, membajak kebun, sampai dengan jadi beras dan masak  di periuk serta dihidangkan di piring. Ini yang kami  jual atau sampaikan ke tamu,” tutur salah seorang warga Waturaka Blasius Oja yang sudah beberapa kali mendampingi tamu.

     

    Blasius yang mendapat penghargaan petani terbaik NTT dari Presiden Indonesia Agustus lalu ini melanjutkan kalau ada banyak yang disuguhkan ke wisatawan ketika wisatawaan datang ke Waturaka.

     

    “Setelah pulang dari Kelimutu, aktivitas lain saat wisatawan datang ke sini adalah kami tawarkan mereka  ke air  terjun Muru Keba, Air panas Lia Sembe atau mereka juga sama sama dengan kami ke kebun, mereka kerja, bertani dan biasanya pulang bawa dengan hasil kebun seperti  ambil sayur dan di penginapan diolah atau masak dan dirasakan sama sama makanan  dari kebun, lalu malamnya kami kasih sarung dan mereka langsung menginap di rumah warga,” tambah Blasius

     

    Musik

     

    Berwisata ke Waturaka tidak hanya keindahan alam dan keramtamahan warga yang menjadi suguhan, namun juga disuguhkan musik dan lagu lagu yang bernuansa daerah Lio. Jika ingin belajar musik lokal berupa gambus dan sato (sebuah alat semacam biola bertali satu) Waturaka-lah tempatnya.

     

    “Kami memiliki sebuah sanggar yang siap pentas namanya Sanggar Mutu Lo’o, Sudah beberapa kali kami pentas seperti di Ende, Mataram, Maumere, Kawasan Kelimutu bahkan juga beberapa kali di Moni saat terima tamu dari luar. Di sini kami menyuguhkan juga musik gambus dan sato dengan lagu - lagu dan tarian bernuansa daerah lokal,” tambah Marselinus Satu, Koordinator bidang sanggar.

     

    Lagu lagu dan tarian beraneka, penuh dengan pesan dan makna, sanggar mutu loo memiliki personil yang direkrut dari warga setempat, sekalipun padat dengan berbagai aktivitas harian sebagai petani, keihklasan warga untuk tetap menjaga dan melestarikan kekayaan local terlihat  dari keikhlasan warga untuk berlatih musik dan terus menciptakan lagu lagu lokal yang diiringi dengan bebrapa alat musik lokal  seperti sato, gambus, juk/okulele, gendang, suling.

     

    Dalam berbagai pertunjukan tak jarang dapat masukan dari pengunjung yakni perlu adanya regenerasi musik, karena sebagain besar personail adalah orang dewasa, maka perlu ada reorganisasi atau melatih kemampuan musik lokal bagi kawula muda, karena itu, Sanggar Mutu Loo juga memberikan pengajaran secara gratis ke anak anak SD.

     

    “Kami melatih musik sato, gambus dan musik serta nyanyain lokal lainnya di SD secara gratis, Ini sebagai pilihan agar warisan ini bisa diterukan ke anak anak kami,” tutur Marsel yang diamini Blasius.

     

    Manajemen

     

    Sebagai sebuah desa wisata tidak bisa pisah dari tata kelola dan manajemen. Desa Waturaka sudah sejak tahun 2012 mendapat dukungan dari swiscontact untuk pemberdayaan pariwisata berbasis masyarakat. Sekitar tahun 2013 kolaborasi dan sinergisitas pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat tercermian dalalm kelompok sadar wisata atau Pokdarwis Waturaka. Semua yang tergabung dalam pokdarwis ini sudah terorganissir untuk berperan sesuai dengan tugas. Pokdarwis memiliki pengurus, Ada pengurusnya sudah terbagai atas masing masing bidang untuk berperan sesuai dengan tugasnya. Terkait peningkatan kapasitas, Swiscontact wisata juga menyediakan Program untuk peningkatan skill dan keterampilan warga.

     

    “Dari swisscontac kami dilatih manajemen atau kepengurusan. Mereka datangkan ahli dari luar, makanya kami sekarang sudah ada koordinator masing masing bidang, ada koordinaor untuk sanggar, homestay, agrowisata, ada koordinator untuk guide.  Hal lain yang kami peroleh adalah program bahasa inggirs serta pengelolaan sampah-sampah plastik,” tutur Blasius.

     

    Manfaat

     

    Blasius sebagai pengurus Pokdarwis merasakan dampak dari pariwisata. Dia percaya pariwisata bermanfaat untuk masyarakat. Sejak i 2012 mereka membangun dan didampingi Swiscontact ada dampak yang dirasakan, seperti tamu sudah banyak berkunjung di Desa Waturaka  dan ada objek objek baru yang diperkenalkan ke wisatawan, seperti air terjun Muru Keba, air panas Lia Sembe, agro wisata berupa daerah pertanian, bahkan tamu  sampai tinggal di rumah-rumah warga. Ini adalah bukti atau dampak yang dirasakan secara langsung.

     

    Sejak dibukanya Desa Wisata Waturaka, Agustus 2015 lalu hingga Desember 2015 tercatat dari buku tamu sudah 111 orang wisatwan asing hadir ke Waturaka. 

     

    Blasius dan Marselinus mengatakan  tanggapan mereka sangat positif dan  baik. Ini bisa dilihat dari buku tamu. Di Waturaka sudah lengkap, rencanya hanya menginap dua malam bahkan betah sampai enam hari dan mereka pulang sampai menangis, kami tidak bisa bayangkan, di luar Waturaka masih banyak tempat yang indah, namun banyak wisatawan mengatakan cukup di sini.

     

    Konsep CBT

     

    Salah seorang pekerja Community Based Tourism (CBT) di Flores, Greg Manao ketika dimintai keterangan menuturkan, CBT adalah pariwisata  berbasis masyarakat. Baginya, CBT adalah segala sesuatu atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri yang berkaitan dengan aktivitas pariwisata yang ada di daerah itu.

     

    Apa yang dilakukan masyarakat, targetnya adalah wisatawan. Sedangkan apa yang dilakukan pihaknya, memetakan potensi, seperti akses. Di Ende misalnya, ada higlight seperti Kelimutu, ada banyak potensi yang ada di desa. Dalam CBT bagaimana memberikan penyadaraan kepada masyakat bahwa mereka punya potensi. CBT itu sendiri tidak untuk mengubah apa yang ada melainkan melestarikan, mememihara dan mengembangkan apa yang sudah ada.

     

    “Kalau soal akses tidak perlu semen, kita hanya mengarahkan siapa yang harus mengatur dan yang memberikan jaminan, ada pemeliharaan, uang yang masuk siapa yang bertanggungjawab, siapa yang maintenance, serta untuk keperluan promosi,” ujarnya.

     

    Manao yang sudah beberapa kali menangani program pariwisata berbasis masyarakat ini mengatakan kesulitan terbesar adalah sumber daya manusia yang terbatas, persoalan internal dalam suatu komunitas. Bahwa akan ada dinamika yang terjadi sebelum kehadiran Siwiscontact.

     

    Lembaga ini hadir dan  ada untuk sebuah misi yakni perubahan. Terjun langusng ke masyarakat akan ada rasa tidak percaya, karena itu dipulihkan dan jaga kepercayaan tidak mudah.

     

    Kegiatan sepeti CBT itu butuh proses dan tidak serta - merta mendapat hasil, tetapi butuh proses, sementara masyarakat mau yang instan. “Oleh karena itu penting sekali kita mengambil  metode yang tepat seperti live in, kita mengenal karakter dan persoalan di masyakat biasanya mudah dalam lembaran kertas tetapi sulit di lapangan,” urainya.

     

    Kehadiran Swiscontac di Waturaka adalah sebuah berkah. Lembaga ini ada bersama masyarakat, bekerja bersama mereka, mendengar pendapat, saran dan melahirkan ide baru. Hasilnya, Waturaka mulai menggeliat. Pariwisata mulai bergairah, segairah masyarakatnya menerima kehadiran para wisatawan ke desa mereka.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.