• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 27 November 2021

     
    Home   »  Nasional
     
    Sekolah SABDA, Tempat Belajar Menghargai Perbedaan Antar Umat Beragama
    ANA DEA | Sabtu, 26 Desember 2015 | 10:49 WIB            #NASIONAL

    Sekolah
    Puluhan tokoh dari belasan organisasi lintas agama di Malang, Jawa Timur, Selasa (15/7/2014) gelar doa bersama untuk Palestina. Semoga perdamaian terjadi di Palestina. Selasa (15/7/2014).

     

     
    JAKARTA - Kemarin, Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo banyak bercerita mengenai hebatnya toleransi antar umat beragama di Indonesia.

    Dia juga menceritakan salah satu program milik Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta bernama Sekolah Agama dan Bina Damai (SABDA), tempat untuk menyebarluaskan semangat toleransi itu.

    "FKUB DKI yang diketuai Pak Syafii Muhfi, sudah sejak dua tahun lalu memprakarsai yang namanya SABDA. SABDA itu singkatan sekolah agama dan dan bina damai," ujar Suharyo di Gereja Katedral, Jalan Katedral, Jumat (25/12/2015).

    Sekolah tersebut mengumpulkan perwakilan lima agama di Indonesia, baik yang berusia muda hingga tua. Mereka akan belajar untuk saling mengenal secara pribadi maupun agama selama lima hari.

    Suharyo bercerita lokasi pelaksanaan sekolah ini bermacam-macam. Sekolah ini pernah dilaksanakan di kantor PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) dan di Keuskupan Agung Jakarta. Bahkan sudah dibuat rencana untuk menggelar sekolah ini di sebuah pesantren.

    "Hebat kan. Dari sini terlihat ada usaha kita untuk menjaga harmoni dan kerukunan itu," ujar Suharyo.

    Berdasarkan informasi yang terdapat di fkub.org, SABDA yang terakhir diselenggarakan pada November 2015 lalu dengan tema "Meneguhkan Kembali Komitmen Kebangsaan Melalui Kerukunan Umat Beragama".

    SABDA yang terakhir dibuka secara khusus oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat.

    Ketika itu, Djarot mengatakan sekolah ini bisa menjadi cara untuk menekan kegiatan radikalisme di Jakarta. Sebab, menurut dia, tindakan radikalisme terjadi dari pihak yang kurang memiliki toleransi.

     


    Sumber: megapolitan.kompas.com
    URL SUMBER
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2021 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.