• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 29 Oktober 2020

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Puluhan Warga Tekaiku Resmi Menjadi Warga Langir
    VICKY DA GOMEZ | Jumat, 15 Januari 2016 | 09:28 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Puluhan
    Sebagian warga Tekaiku

     

     
    MAUMERE, FLOBAMORA.net – Raut muka 89 warga Desa Tekaiku Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka Provinsi NTT tampak gembira. Setelah 23 tahunmendiami wilayah administrasi Desa Langir Kecamatan Kangae, terhitung sejak Desember 2015 lalu mereka akhirnya resmi menjadi penduduk Desa Langir melalui proses mutasi kependudukan yang berliku dan panjang.

    Pihak kecamatan pun mensyukuri proses ini dalam sebuah ekaristi kudus, yang disatukan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru bersama. Misa syukur yang dipimpin Romo Julius Caesar, berlangsung di halaman Kantor Desa Langir, Sabtu (9/1). Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera, Wakil Bupati Sikka Paolus Nong Susar, Ketua DPRD Sikka Rafael Raga ikut hadir dalam perayaan syukur ini.

    Warga yang baru saja mengalami mutasi kependudukan pun hadir. Sebelum perayaan ekarisiti, mereka diarak dengan tarian dan musik tradisional, dan percikan air (huler wair) yang merupakan tradisi dan kearifan lokal di Kabupaten Sikka.

    Puluhan warga yang mengalami mutasi kependudukan ini, selama 23 tahun hidup di Dusun Habi Buang dalam wilayah administrasi Desa Langir. Selama kurun waktu itu, mereka mendapatkan pelayanan administrasi dari Desa Tekaiku.

    Warga ini pindah menetap di Desa Habi Buang menyusul peristiwa gempa dan tzunami yang melanda kampung mereka Dusun Wolomude pada 12 Desember 1992 lalu. Atas inisiatif sendiri mereka terpaksa mengungsi ke Habi Buang, membangun rumah di dusun itu, dan bertahan hidup sampai sekarang.

    Karena mendiami wilayah administrasi yang baru, agar tidak membingungkan pelayanan administrasi kependudukan, mereka diminta untuk pindah dan menjadi penduduk Langir. Namun proses mutasi kependudukan selalu gagal. Sudah sekian kali pergantian bupati, camat, dan kepala desa, upaya mutasi kependudukan mengalami proses buntu, karena mereka tidak mau menjadi penduduk Langir.

    Adalah Camat Kangae Yohanes Yanto Kaliwon dan Kepala Desa Langir Arianus Andale yang kemudian berhasil menyelesaikan persoalan ini. Meski baru 1 tahun menjabat sebagai camat dan kepala desa, dua pejabat ini terus melakukan pendekatan secara intensif, hingga akhirnya puluhan warga ini sepakat melakukan mutasi kependudukan.

    Markus Manek, satu dari 89 warga yang ditemui usai perayaan ekaristi, mengaku perasaannya bercampur aduk antara gembira, lega dan terharu setelah resmi menjadi penduduk Langir. Dia beraharap hak-hak mereka selama masih menjadi penduduk Tekaiku dapat diakomodir di wilayah yang baru, seperti jatah raskin, pelayanan kesehatan, dan lain-lain.

    “Kami sudah lama tinggal di sini (Habi Buang, Red), memang sedikit terganggu karena urusan administrasi harus ke Tekaiku, kantornya kurang lebih 3 kilometer dari sini. Tapi begitulah suasananya. Syukur dengan berbagai pendekatan, akhirnya kami juga secara sadar berinisiatif menjadi penduduk Langir,” ungkap dia.

    Kepala Desa Langir Arianus Andale menjelaskan awalnya ada 34 kepala keluarga yang pindah dari Wolomude ke Habi Buang. Kondisi terakhir jumlahnya berkurang menjadi hanya 31 kepala keluarga karena 3 kepala keluarga sudah kembali ke Wolomude. Yang sepakat status kependudukan dimutasikan hanya 28 kepala keluarga saja, karena 3 kepala keluarga lebih cenderung memilih tetap menjadi warga Tekaiku.

    Dia menambahkan dengan resminya 89 warga itu menjadi penduduk Langir, maka secara otomatis nama mereka dihapus dari data kependudukan di Tekaiku, termasuk hak-hak pelayanan yang mereka dapatkan di desa sebelumnya. Selanjutnya, hak-hak pelayanan itu, tegasnya, akan diakomodir di Langir. Malah dalam rencana, dia akan membangun sebuah posyandu di Habi Buang guna pelayanan kesehatan.

    Faustinus Vasco, anggota DPRD Sikka dari Fraksi PKP Indonesia ikut menyatakan apresiasi atas proses ini. Mantan Kepala Desa habi dua periode itu berharap adanya komunikasi dan hubungna baik antara penduduk Langir dengan warga yang baru resmi menadi penduduk Langir.

    Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera mengatakan menyelesaikan persoalan kependudikan di wilayah perbatasan memang bukan suatu pekerjaan yang gampang. Karena itu dia menyatakan apresiasi kepada Camat Kangae Yohanes Yanto Kaliwon dan Kepala Desa Langir Arianus Andale.

    Kepada Yanto Kaliwon dan Arianus Andale, dia berpesan agar pascamutasi kependudukan diikuti dengan pembenahan administrasi dan pelayanan kependudukan kepada warga yang baru.

    Di Kabupaten Sikka, masalah status kependudukan juga dialami sejumlah warga di perbatasan antara Desa Nita Kecamatan Nita dan Desa Koting A Kecamatan Koting, serta warga di Desa Takaplager Kecamatan Nita dan Desa Ribang Kecamatan Koting. Dua “konflik” ini juga sudah diselesaikan meski harus berlarut-larut dan panjang karena tarik-menarik berbagai kepentingan dan pertimbangan.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.