• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 24 November 2020

     
    Home   »  Nasional
     
    Ahok Mulai Tiru Model China
    ANA DEA | Minggu, 24 Januari 2016 | 10:15 WIB            #NASIONAL

    Ahok
    Presiden Joko Widodo didampingi (kiri ke kanan) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Jaksa Agung HM Prasetyo, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat peletakan batu pertama proyek sistem transportasi kereta ringan (light rail transit/LRT) Jabodetabek di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (9/9/2015). Pembangunan dua koridor awal LRT yakni Cibubur-Cawang-Dukuh Atas sepanjang 24,2 kilometer (km) dan rute Bekasi Timur-Cawang-Dukuh Atas sepanjang 17,9 km anggarannya mencapai Rp 23,8 triliun, ditargetkan selesai dalam tiga tahun.

     

     
    JAKARTA - Infrastruktur kawasan akan lebih cepat berkembang jika dibangun pemerintah. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh China yang mengejar Indonesia dalam kemajuan infrastruktur.

    Direktur PT Ciputra Property Tbk Artadinata Djangkar mengatakan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, tengah menerapkan pola serupa dengan China.

    "Di Jakarta, Ahok mulai meniru-niru China. Ahok melihat peluang untuk mendapat uang dari pengembang melalui peningkatan Koefisien Luas Bangunan (KLB)," ujar Arta saat diskusi "Percepatan Pembangunan Infrastruktur Indonesia", di Jakarta, Sabtu (23/1/2016).

    Hal ini, kata Arta, ditunjukkan ketika pertengahan tahun 2015, Ahok melontarkan ide pembangunan Light Rail Transit (LRT) Kelapa Gading-Kebayoran Lama.

    Saat itu, sebanyak delapan pengembang diundang untuk bernegosiasi dengan Pemprov DKI Jakarta. Arta menuturkan, Ahok menawarkan untuk meningkatkan KLB jika pengembang mau menyumbang dana pembangunan LRT.

    Meski tidak menyebutkan angka, menurut dia, jumlahnya sangat besar. Arta menjelaskan, Ciputra sendiri tidak berkeberatan.

    Namun, dari segi waktu, ide ini kurang tepat karena bisnis properti sedang melambat, sehingga tawaran Ahok dirasa sangat memberatkan pengembang.

    "Konsepnya sudah betul. Swasta mau (menyumbang), kalau logika bisnisnya ada. Kita tidak apa-apa," cetus Arta.

    Meski demikian, ia menambahkan, keberatannya dalam ikut serta menyumbang dana pembangunan LRT karena Jakarta sudah terlampau padat.

    Ketika Ahok dan Presiden Joko Widodo merancang titik-titik stasiun LRT, lokasinya berada di tempat yang sudah padat dan kepemilikan tanahnya serabutan.

    Menurut Arta, hal ini justru akan menimbulkan masalah baru jika LRT dipaksakan dibangun.

     


    Sumber: properti.kompas.com
    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.