• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 24 Januari 2022

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Jaga Keaslian Tenun Ikat NTT
    ALBERT VINCENT REHI | Kamis, 03 Maret 2016 | 17:02 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Jaga
    Alfonsa Ragha Horeng

     

     
    KUPANG, FLOBAMORA.NET - Praktisi tenun ikat dari Sikka, Flores Alfonsa Ragha Horeng, menyambut baik upaya yang dilakukan Kementerian Perindustrian, Pemerintah Provinsi NTT dan Undana Kupang untuk membuka program studi tenun ikat.

    “Kenapa baru sekarang dipikirkan. Kenapa tidak sejak dulu. Toh semuanya bertujuan mendukung pelestarian dan kesinambungan tenun ikat di daerah ini,” kata Alfonsa pemilik Sanggar Lepo Lorun di Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka yang dihubungi dari Kupang, Kamis  (3/3).

    Ia mengungkapkan kegundahannya lantaran proses regenerasi penenun di NTT berkembang sangat lamban dan sifatnya alamiah. Jika ini tidak dilestarikan, suatu saat nanti orang NTT sudah tidak lagi mengenal tenun ikat miliknya sendiri. Dan akan lebih miris lagi, jika orang NTT harus belajar dari orang luar tentang tenun ikat.

    Yang diharapkan dengan adanya program studi ini, tidak hanya terjadinya transfer ilmu pengetahuan dan  mengembangan tenun ikat dilihat dari sisi ekonomi, tetapi sebuah upaya pelestarian budaya yang sudah diwariskan secara turun-temurun, sekaligus mendorong generasi muda untuk mencintai karya–karya daerahnya sendiri.

    Alfonsa yang saat ini tengah menyelesaikan studinya di Quensland Univercity, Australia ini menuturkan, sebagai pemimpin sanggar Lepo Lorun telah melanglang buana setidaknya ke 38 negara, baik di kawasan Amerika, Eropa, maupun Asia. Beberapa di antaranya adalah Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, Kuba, Equador, Panama, Peru, Chili, Bolivia, Argentina, Bolivia, Honduras, Nicaragua, Guatemala, dll. Di Eropa seperti, Belanda, Polandia, Italia, Perancis, Inggris, Portugal, Swiss, Belgia, Jerman, dll. Di Asia, China, Philipina, Thailand dan Jepang ungtuk memperenalkan tenun ikat dari NTT, khsusnya Sikka.

    Dalam kunjungan ke luar negeri dia selalu menjadi pembicara. Setidaknya sudah sekitar 60 universitas terkemuka mendengar pandangan-pandangannya. Ia membeberkan filosofi kain tenun ikat sebagai sesuatu yang sangat prinsip. Ia juga membagi pengetahuan mengenai motif, bahan, alat, serta bagaimana proses menenun selembar kain tenun ikat. Ia lalu mendemonstrasikan bagaimana caranya wanita Sikka menenun menggunakan peralatan tradisional warisan leluhur.

    “Saya keliling dunia sambil membawa alat untuk menenun. Saya cerita tentang kain tenun ikat dan mendemonstrasikan bagaimana cara membuatnya. Mereka terkagum-kagum. Para pakar di berbagai negara mempelajari dengan saksama. Mereka mengacungkan jempol dan mengaku kain tenun ikat sebagai sebuah mahakarya. Sebuah karya besar yang bertumpu pada adat budaya,” ucap Alfonsa Horeng penuh kebanggaan.

    Dia menolak jika para penenun disebut sebagai pengrajin. Baginya, sebutan itu salah, melecehkan para penenun. “Kami menenun untuk menghormati nenek moyang, menghormati adat budaya kita. Yang kami hasilkan adalah barang adat yang berkaitan dengan jati diri kita. Kain tenun ikat selalu ada hubungan dengan upacara adat, sistem belis dalam proses kawin mawin, kematian atau seluruh roda kehidupan masyarakat,” ucap Alfonsa yang berkeliling dunia atas undangan berbagai pihak di mancanegara.

    Untuk Prodi tenun ikat di Undana yang nanti lebih menitikberatkan pada praktik, menurut dia, hendaknya bahan yang digunakan juga asli. Kapas, tarum, nila, mengkudu, dll. mesti ditanam. Bahkan di sekitar sanggar terdapat tanaman tarum sebagai pewarna alami warisan leluhur. “Saya
    mesti ingatkan, kita wajib menjaga keasliannya, baik bahan, motif atau pewarnaannya. Keaslian inilah yang membuat semua orang menghormati kita. Keaslian inilah yang membuat kain tenun ikat kita nilainya sangat tinggi,” tandas Alfonsa.

    Target yang hendak dicapai dari kesungguhan menjaga dan merawat keaslian kain tenun ikat, agar suatu saat kelak kain tenun ikat bisa memperoleh pengakuan dari UNESCO seperti halnya batik dari Jawa.

    “Unesco bisa mengakui sepanjang kita mampu menjaga keaslian identitas diri kita. Di Meksiko dan Peru ada komunitas yang memang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk menjaga keaslian budaya, termasuk tenun ikat mereka,” tandas Alfonsa.

    Kesungguhan seorang Alfonsa bersama para penenunnya telah mengilhami sejumlah sineas untuk mendokumentasikan aktivitas di sanggar ini dalam bentuk sebuah film dokumenter. ‘Hau Lorun atau Saya Menenun’ adalah judul film yang mengangkat keseharian penenun di Sanggar Lepo Lorun yang telah sangat mendunia tersebut.***

     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2022 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.