• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 21 September 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Kartini telah Merintis Jalan untuk Perempuan Indonesia
    ALBERT VINCENT REHI | Selasa, 26 April 2016 | 12:33 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Kartini
    Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, Dra. Bernadeta Meriani Usboko,M.Si

     

    Wawancara Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, Dra. Berandeta Meriani Usboko, M.Si

     

    PEMBANGUNAN pemberdayaan perempuan menjadi bagian paling penting dalam pembangunan bangsa dan negara ini. Di Nusa Tenggara Timur (NTT) berbagai permasalah tentang perempuan membutuhkan intervensi serius pemerintah dan seluruh komponen masyarakat. Persoalan tersebut tidak bisa dilihat biasa-biasa saja, karena angka kekerasan yang dialami perempuan yang dilatarbelakangi berbagai masalah seperti ekonomi, sosial budaya dan kemasyarakatan.    

     

    Selain itu, sudah lama muncul perjuangan tentang kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas), serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.

     

    Seperti apa potret pembangunan pemberdayaan perempuan di NTT? Jumat 22 April 2016 lalu, Flobamora.net, berkesempatan mewawancarai Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, Dra. Bernadeta Meriani Usboko,M.Si yang saat itu didampingi Dra. Theresia Funan, Sekretaris Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabid KKG Mataufue Ikun Ignatius dan Kasubbid Sosial dan Politik Perempuan Melki Lakingundju.

     

    Berikut penuturan mantan Kepala UPT Pendidikan Non Formal dan Informal Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, yang pernah bekerja di Badan Narkoba  dan Badan Diklat Provinsi NTT ini :

     

    Bisa dijelaskan visi dan misi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di daerah ini ?

     

    Visi dan misi ini erat kaitannya visi dan misi Pemerintah Provinsi NTT yakni terwujudnya masyarakat NTT yang berkualitas, sejahtera dan demokratis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sedangkan misi yang diemban Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak adalah meningkatkan kualitas kehidupan keluarga, pemberdayaan perempuan serta perlindungan dan kesejahteraan anak.

     

    Secara khusus, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT mengemban visi terwujudnya kesejahteraan dan keadilan gender serta peerlindungan perempuan dan anak di Provinsi NTT. Sedangkan misinya adalah meningkatkan kualitas hidup perempuan dan akan, meningkatkan partidipasi perempuan dan pembangunan dan meningkatkan pelayanan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak.

     

    Bagaimana soal misi Kesetaraan dan Keadilan Gender yang diemban Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ?

     

    Di bidang ini ruang dibuka untuk bagiamana perempuan diberi andil  yang sama dengan laki--laki dalam pembangunan, melalui kesetaraan dan keadilan gender sesuai. Ini sesuai  dengan Permendagri Nomor 67 tahun 2011 yang mengisyaratkan supaya Pokja kesetaraan dan keadilan gender keanggotaanya ada di semua SKPD. Ini akan terlihat jika para vocal point  gender yang terbentuk di SKPD di dalam perencanaan program  memberi porsi terkait kesetaraan gender atau responsif gender. 

     

    Saat ini kami sementara mendorong agar ada vocal point gender dan Pokja di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota. Selain itu adanya vocal point gender di setiap SKPD. Kami juga mendorong partisipasi masyarakat dengan melibatkan pemangku kepentingan yang punya perhatian terhadap masalah perempuan dan anak.

     

    Soal peningkatan kualitas hidup perempuan di daerah ini seperti apa ? 

     

    Sebetulnya ada multipersoalan yang dilihat. Ada sisi kesehatan, pendidikan, sosial budaya dan politik. Di Bidang kesehatan kesehatan perempuan misalnya. Keputusannya masih didominiasi oleh  laki-laki dan mertua. Ini yang mengakibatkan angka kematian ibu melahirkan di NTT masih cukup tinggi. Apa yang terjadi? Pada saat kritis harus menunggu keputusan suami atau mertua untuk melakukan tindakan penyelamatan. Sesungguhnya ini adalah hak perempuan untuk mengambil keputusan, terutama saat melakukan persalinan.

     

    Kalau Bidang Pendidikan dan Politik kondisinya seperti apa?

     

    Di bidang ini, meski ada ruang diberikan kepada perempuan untuk mengenyam pendidikan, tetapi masyarakat kita masih memberikan kesempatan lebih besar kepada anak laki-laki. Padahal, perempuan harus diberi porsi yang sama di bidang pendidikan. Kita lihat ada regulasi yang telah memberi ruang kepada perempuan.

     

    Di bidang politik, regulasi juga telah memberikan porsi cukup besar kepada perempuan untuk terlibat aktif. Tetapi mengapa ini masih sangat jauh. Di satu sisi harus kjita akui kepercayaan diri perempuan masih sangat lemah. Kita mendorong perempuan untuk terlibat aktif.

     

    Kami mendorong agar perempuan jangan takut terjun ke bidang politik. kami punya tanggung jawab untuk melakukan sosialisasi agar perempuan juga tahu hak-hak politiknya. Demikianpun di bidang ekonomi.

     

    Contoh konkritnya….

     

    Jika kaum perempuan itu tinggal di perkampungan nelayan, kita mendorong mereka untuk memanfaatkan potensi yang ada dan mengolahnya dengan baik sehingga bernilai ekonomi tinggi. Misalnya membuat abon ikan, pindang atau dendeng ikan.

     

    Di bidang kesehatan, kita terus melakukan upaya agar perempuan bisa memahami dirinya  untuk memperoleh layanan kesehatan. Demikian pula  di bidang pendidikan. Kami juga beraliansi dengan pihak terkait lainnya untuk mendorong perempuan dalam pembangunan. Ini sudah kita lakukan dalam dua tahun terakhir. Kemudian mendorong partisipasi perempuan dalam politik. Kami mendorong ada perempuan yang maju dalam ajang Pilkada, tidak sekadar sebagi pelengkap tetapi harus bisa keluar sebagai pemenangnya.

     

    Tentang perlidungan terhadap Perempuan…

     

    Kita melihat masalah human trafficking di NTT masih cukup tinggi. Ini lebih banyak melibatkan perempuan karena persoalan eklonomi. Hal lain yang juga masih cukup tinggi adalah kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga. Kekerasan terhadap perempuan ini nyaris tak terdengar tetapi sesungguhnyabanyak terjadi. Sekarang data semakin tinggi, lantaran perempuan semakin berani untuk melapor dan ada wadah  yang menampung laporan mereka,. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak punya pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, yang terus memfasilitasi dan mendampingi persoalan perempuan dan anak  baik menjadi korban maupun  saksi serta pelaku. Kita dampingi  mereka agar persoalannya bisa diselesaikan tuntas.

     

    Kami juga punya gugus tugas untuk mencegah tindak pidana perdagangan orang hingga ke tingkat desa, bersama  Dinas Nakretrans, Dinas Sosial, Kanwil Hukum dan HAM  dan Polda NTT. Kita juga berkoordinasi dengan pihak Angkasa Pura dan Pelindo untuk mencegah poemberangkatan yang illegal baik di bandara, pelabuhan maupun perbatasan antarnegara.

     

    Untuk itu, kami punya tiga fokus utama yang dikenal dengan Three Ends,yakni akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia  dan akhiri kesenjangan ekonomi terhadap perempuan.

     

    Apa yang dilakukan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di daerah ini ?

     

    Dengan adanya Inpres Nomor 9 tahun 2000 dan Permendagrai nomor 67 tahun 2011 dan telah ada pedoman pengarusutamaan gender. kami telah mengeluarkan edaran yang  ditindaklanjuti dengan pendekatan kepada semua SKPD, kemudian bermitra dengan IPMNH, IPJ untuk memperkuat kabupaten/kota tentang pembentukan Pokja pengarusutamaan gender dan vocal point gender. Kami juga terus melakukan sosialisasi tentang itu serta menghasilkan bahan ajar yang benar-benar responsif gender.

     

    Di NTT angka kematian ibu bersalin atau melahirkan masih cukup tinggi. Apa yang sudah dilakukan Badan Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ?

     

    Baik… tadi saya sudah katakan, kami tidak bekerja sendirian. Kami melakukan koordinasi dengan dinas atau intansi terkait lainnya terutama Dinas Kesehatan untuk memberi ruang kepada perempuan guna memahami sungguh tentang akses ke sarana dan prasarana kesehatan. Kami juga sudah menggelar dialog publik tentang hak-hak reproduksi. Ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia kerja sama dengan IPMNH bersama Ibu Luis Thompson , yang menghasilkan sebuah gerakan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengambil keputusan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Juga kerja sama dengan BKKBN Provinsi NTT di bidang keluarga berencana.

     

    Lima tahun terakhir angka human trafficking di NTT cukup tinggi. Korban yang paling banyak adalah perempuan. Upaya konkrit apa yang sudah dilakukan untuk mengurangi atau menekan kasus ini ?

     

    Bicara soal perdagangan orang, ibarat sebuah mata rantai yang tidak pernah terputuskan., Untuk keterpaduannya, gugus tugas yang telah dibentuk harus aktif. Kami tetap lakukan sosialisasi terpadu  hingga ke desa-desa mengajak masyarakat untuk memanfaatkan prosedur yang benar jika ingin bekerja ke luar negeri. Kami sudah membentuk gugus tugas yang sama di kabupaten/kota, membuat modul untuk menghentikan praktik ini, mengedarkan leaflet dan membuat radio spot tentang anti perdagangan orang. Ini kami gemakan lewat peringatan Hari Perempuan tanggal 8 Maret 2016 lalu.

     

    Kami dengar Anda sedang menggagas pembentukan Cool Womens Centre Community. Sebetulnya apa yang mejadi dasar pemikirannya?

     

    Betul… Saya sedang menggagas pembentukan Cool Womens Centre Community. Saya berpikir untuk memecahkan persoalan yang dialami perempuan tidak bisa bekerja sendirian. Mudah-mudahan secepatya ini terwujud guna mengatasi persoalan perempuan hingga akar rumput, bukan saja di tingkat provinsi tetapi juga ke desa-desa secara berjenjang dan berbagi informasi tentang perempuan serta menjadikan perempuan sebagai agen perubahan.

     

    Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini. Bagaimana kaum perempuan memaknai peringatan tersebut ?  

     

    Kartini telah merintis jalan untuk para perempuan Indonesia. Untuk itu perempuan Indonesia harus kuat dan tegar menghadapi berbagai persoalan untuk mengisi pembangunan. Kami tidak pernah berhenti bersuara. Mari beri ruang atau akses kepada perempuan untuk terlibat aktif dalam pembangunan.

     

    Apa harapan bagi perempuan NTT agar bisa maju dan mandiri ?

     

    Harapan saya adalah perempuan harus membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan, kemudian bekali dengan iman yang kuat sehingga tidak mudah terpancing dengan hal-hal negatif, lalu mari bersatu dan bergandengan tangan, saling berbagi, saling meneguhkan dan maju bersama-sama dalam mengatasi persoalan perempuan yang kita hadapi.

     

    Harapan untuk masyarakat seperti apa ?

     

    Masyarakat harus tahu ibu adalah awal dan sumber kehidupan. Semua orang harus mengharga ibu. Ibu adalah sumber kasih sayang dan tidak tergantikan. Olehnya, hargailah perempuan. Beri peran. Dengarlah suaranya yang lembut karena akan membawa keteduhan dalam mengatasi berbagai persoalan.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.