• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 21 September 2019

     

     
    Home   »  Nasional
     
    `Mayoritas Warga Jakarta Tak Terpengaruh Isu SARA`
    ANA DEA | Rabu, 11 Mei 2016 | 09:34 WIB            #NASIONAL

    `Mayoritas
    Mantan Menpora Adhyaksa Dault, ulama Yusif Mansyur, dan Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana hadir dalam sebuah diskusi bertema Pilkada DKI 2017 di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (21/4/2016). Jessi Carina

     

    JAKARTA - Penggunaan isu-isu terkait suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) masih membumbui Pilkada DKI Jakarta pada 2017. Meme berisi isu SARA turut meramaikan media sosial. Kebanyakan isu-isu tersebut digunakan untuk menyerang Gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

     

    Namun sebuah survei dari IndoStrategi menyatakan, mayoritas warga DKI Jakarta tidak terpengaruh oleh isu SARA yang digulirkan.

     

    "Sebanyak kira-kira 29 persen responden yakin bahwa masyarakat DKI Jakarta bisa terbelah oleh isu-isu SARA, sedangkan yang menentang keyakinan ini sebanyak 59 persen," ujar Direktur Eksekutif IndoStrategi Andar Nubowo, Selasa (10/5/2016).

     

    Survei yang diadakan pada 1-12 April lalu itu melibatkan 1.200 responden dari lima kota madya dan satu kabupaten di DKI. Dari total responden itu, 91 persen di antaranya beragama Islam.

     

    Dalam survei tersebut, 63,2 persen responden menyatakan setuju jika gubernur DKI dipimpin oleh seorang Muslim. Namun, saat disuguhkan nama-nama kandidat bakal calon gubernur, mayoritas responden tetap memilih Ahok yang bukan Muslim.

     

    Andar membaca hasil tersebut sebagai situasi bahwa pandangan masyarakat Islam Jakarta yang masih normatif tidak memengaruhi preferensi politik mereka. Hasil survei bahkan menunjukkan nilai signifikansi korelasi keduanya kurang dari 0,05 persen.

     

    Warga Jakarta, kata Andar, lebih melihat program-program dan track record apa yang dimiliki para kandidat. Mereka tidak terlalu memedulikan latar belakang agama calon pemimpin mereka.

     

    "Yang dibutuhkan adalah bagaimana pemimpin itu melakukan pelayanan publik. Itu bukan normatif lagi, tapi praktik. Meskipun alam bawah sadar warga normatif, tapi dalam politik itu mereka praktik," tuturnya.

     

    Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, pendiri Public Virtue Institute atau Change.org, Usman Hamid, memprediksi kandidat yang hanya menggunakan isu SARA untuk menyerang lawan tanpa mengedepankan program akan kalah pada Pilkada 2017.

     

    "Saya prediksi tidak akan efektif (kampanye menggunakan isu SARA). Justru mereka yang menggunakan isu SARA akan menerima kekalahan telak di pilkada 2017. Itu didasarkan pada pengalaman-pengalaman sebelumnya," ujar Usman.


     

    URL SUMBER
      TAG:
    • ahok
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.