• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 21 September 2019

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Menguak Potensi Energi Baru dan Terbarukan
    ALBERT VINCENT REHI | Selasa, 17 Mei 2016 | 13:57 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Menguak
    Kepala Bidang Listrik dan Pemanfaatan Energi pada Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTT, Rudy G.Baten

     

    KUPANG, FLOBAMORA.NET - Dalam kurun waktu lima tahun terakhir Indonesia mengalami ancaman defisit energi. Untuk mengatasi ancaman defisit energi di masa depan, pengembangan energi baru dan terbarukan (renewable energy) di Indonesia menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi, potensi yang dimiliki oleh “Negeri Seribu Pulau” ini sangat berlimpah.

     

    Lebih dari itu, pola konsumsi energi Indonesia pun perlu bergeser dari energi fosil ke energi baru-terbarukan. Sebab, di tengah tingkat produksi yang kian menurun, konsumsi energi nasional masih didominasi oleh energi tak terbarukan alias energi fosil, yaitu mencapai 94 persen. Ini terdiri dari 47 persen minyak bumi, 21 persen gas, dan 26 persen batubara.

     

    Di Nusa Tenggara Timur (NTT), kondisi kelistrikan tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Hampir setiap tahun kerap terjadi krisis listrik. Kondisi kelistrikan di daerah ini per Februari 2016 dan Ratio Elektrifikasi Tahun 2015, secara keseluruhan Total Daya sebesar 148,04 MW dengan cadangan sebesar 6,59 MW.

     

    “Sejauh ini ada enam sistem pembangkit listrik yang mengalami defisit daya yakni Sistem Bajawa, Waikabubak/ Waitabula, Sabu, Maumere, Lembata, Sistem Larantuka. Sedangkan Ratio Elektrifikasi di NTT pada tahun 2015 sebesar : 58,67 %. Ini berarti dari 3.270 desa di NTT masih ada sekitar 1.206 desa yang belum berlistrik,” kata Kepala Bidang Listrik dan Pemanfaatan Energi pada Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTT, Rudy G.Baten kepada  Flobamora.net, Jumat pekan lalu.

     

    Menurut dia, di tengah kodisi yang masih sangat jauh dari harapan, prioritas pengembangan energi di NTT dilakukan melalui, Pengembangan Energi dengan mempertimbangkan keseimbangan keekonomian energi, keamanan pasokan energi, dan pelestarian fungsi lingkungan hidup; Memprioritaskan penyediaan energi bagi masyarakat yang belum memiliki akses terhadap energi listrik, gas rumah tangga, dan energi untuk transportasi, industri, dan pertanian.

     

    Selain itu, pengembangan energi dengan mengutamakan sumber daya energi setempat; Pengembangan energi dan sumber daya energi diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri; dan Pengembangan industri dengan kebutuhan energi yang tinggi diprioritaskan di daerah yang kaya sumber daya energi.

     

    Menelisik masalah kelistrikan di NTT ada 25 program prioritas  pembinaan dan pengembangan ketenagalistrikan. Kebijakan umumnya  adalah penggunaan Sumber Energi yang Terbarukan serta pengurangan penggunaan energi Fosil dikhususkan pada Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Air,  target eletrifikiasi hingga hingga Tahun 2018  adalah 85 %.

     

    “ Di NTT energi terbarukan yang bias dimanfaatkan antara lain,  Potensi Panas Bumi, Potensi Tenaga Angin, Potensi Air/Sungai, Potensi dan Rencana Pembangkit EBT (PLTP dan PLTU), Potensi dan Rencana Pembangkit EBT (PLTA dan PLTMH ) dan Lokasi PLTS Terpusat,” paparnya.

     

    Sejalan dengan kebutuan listrik yang terus meningkat dari tahun ke tahun, pemerintah telah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPb), PLTPb Ulumbu   kapasitas 2 x2,5 MW; PLTPb Mataloko kapasitas 1x2,5 MW; kemudian PLTPb Atadei  kapasitas 2 x 2,5 MW; dan PLTPb Sukoria kapasitas 2 x 2,5 MW yang masih dalam tahapan pemboran.

     

    Keculi itu, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLTU selain sudah dikembangkan di Kupang, juga di Larantuka   kapasitas 2 x 4 MW; PLTU Apoik  kapasitas 4 x 6 MW; PLTU Waingapu   kapasitas 2 x 4 MW;PLTU  kapasitas 2 x 16,5 MW interkoneksi ke PLTU Apoik.

     

    Khusus untuk energi terbarukan, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) PLTM Ogi di Kab. Ngada dengan kapasitas 60 KW; PLTM Waigaret di Kab.Manggarai dengan kapasitas 80 KW;  PLTM Lokomboro di Kab.Sumba Barat Daya dengan kapasitas 800 KW.

     

    Lalu, Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) PLTH Nemberala dengan kapasitas 147 KW di Pulau Rote, terdiri atas tenaga surya 22 KW, tenaga bayu 90 KW dan tenaga diesel 135 kW; PLTH Wini di Kab.Timor Tengah Utara berbatasan dengan Distrik Oecusi, Timor Leste, dengan kapasitas 390 KW, terdiri atas tenaga surya 120 KW, tenaga bayu 90 KW dan tenaga diesel 180 KW.

     

    Kemudian, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) SoE di Kab.Timor Tengah Selatan dengan kapasitas 1 MW dan pengembangan Sumba Iconic Island.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.