• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 21 September 2019

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Jalan Berliku Kerja Sama Peternakan NTT-DKI Jakarta
    ALBERT VINCENT REHI | Rabu, 18 Mei 2016 | 16:46 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Jalan
    Ternak sapi

     

    KUPANG, FLOBAMORA.NET - Kerja sama peternakan antara Pemerintah NTT dengan Pemerintah DKI Jakarta terancam batal jika pemerintah di daerah ini tidak serius memperhatikan perkembangan populasi sapi di daerah ini.   

     

    Anggota DPRD NTT, Leo Lelo dalam rapat kerja antara DPRD NTT dengan Gubernur Frans Lebu Raya beberapa waktu lalu menjelaskan, berdasarkan data yang dimiliki, populasi ternak sapi di NTT saat ini sebanyak 800.000 lebih. Setiap tahun  daerah ini menghabiskan sekitar 170.000 lebih ekor untuk kegiatan pengantarpulauan, memenuhi kebutuhan masyarakat dan yang dipotong di rumah potong hewan (RPH). Sementara itu, pertumbuhan populasi ternak hanya sekitar 25.000 ekor per tahun.  

     

    Pertumbuhan populasi yang tidak sebanding dengan jumlah ternak yang harus dihabiskan dalam setahun itu, maka pada suatu saat ternak sapi di NTT akan habis atau punah.  “Kita mau tanya seperti apa bentuk kerja sama dengan DKI Jakarta terkait pengembangan ternak,” tandas Leo.  

     

    Kekhwatiran itu juga disampaikan anggota DPRD NTT dari Fraksi PKB, Yucundianus Lepa. Lepa malah  mempertanyakan keseriusan pemerintah untuk mewujudkan tekadnya mengembalikan NTT sebagai gudang ternak. Bicara tentang ternak tidak bisa dipisahkan dari ketersediaan sapi betina produktif. Sangat disesalkan, di pusat pembibitan yang ditangani pemerintah, tingkat kegagalannya cukup tinggi.  

     

    Dia mencontohkan, di pusat pembibitan Besipae, dari total pengadaan sebanyak 220 ekor, yang mati mencapai 126 ekor. Demikian juga di pusat pembibitan Lili, Kabupaten Kupang. Dari 300 ekor pengadaan, yang mati sebanyak 60 ekor.  

     

    “Kita minta pemerintah serius tangani hal ini. Jangan sampai apa yang disampaikan gubernur dalam rapat kerja dengan dewan, ditipu oleh bawahan karena tidak sesuai dengan kondisi riil lapangan,” kata Yucun.  

    Dia menyatakan, di pusat pembibitan yang ditangani saja tingkat kematian ternak cukup besar, apalagi ditangani sendiri oleh masyarakat. Ini menunjukkan pemerintah tidak serius memperhatika aspek budidaya pengembangan betina produktif.  

     

    Dia menyarankan, sebaiknya para petugas yang bekerja di pusat pembibitan mengikuti pendidikan yang diselenggarakan pemerintah atau pihak yang berkompeten di bidang peternakan sapi.

     

    Ihwal kerja sama tersebut Kepala Biro Eknomi Setda NTT, Petrus A. Keron mengatakan, saat ini Pemerintah Provinsi setempat menunjuk PT Flobamor  untuk melakukan kerja sama dengan sebuah perusahaan di Jakarta yakni PT Citra Mahesa Perdana perusahaan yang punya jaringan cukup luas untuk mendukung kerja sama tersebut

     

    Ini karena adanya PP Nomor 4 Tahun 2016 yang memberikan tugas khusus kepada BUMN untuk menyediakan daging. “ Kita gandeng mereka untuk melakukan briding di NTT, agar dalam jangka panjang ketersediaannya cukup. Sedangkan kerja sama peternakan NTT – DKI, dalam situasi terakhir diantarpulaukan sapi setiap bulan 500 ekor. Kita menyadari kita tidak bisa terus mensuport itu tanpa adanya pengembangan ternak sapi yang berkelanjutan sehingga menjamin ketersediaan. Itu baru memenuhi sekitar 3 % kebutuhan daging secara nasional,” ujarnya di Kupang, Kamis pekan lalu.

     

    Menurutnya, pemerintah sudah mendukung PT Flobamor untuk melakukan kerja sama ini. Sedangkan Dinas Peternakan akan mendampingi PT Flobamor dalam rangka kerja sama tersebut. Kerja sama ini harus tetap jalan. Kecuali itu, PT Flobamor juga perlu mencari mitra.

     

    Dia mengakui awalnya pemprov DKI menjanjikan menggelontorkan sejumlah dana untuk mendukung pengembangan ternak di NTT. Namun seiring dengan perjalanan waktu janji itu belum terealisir dan daerah ini  tidak punya cukup dana untuk mengoptimalkan kerja sama tersebut. Namun, sebagai salah satu daerah penyedia pangan tingkat nasional terutama daging, sehingga mau tidak mau harus siap untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ini perlu kerja keras semua stakeholder peternakan di daerah ini.

     

    Pemerintah pusat memang terus berupaya mengembangkan NTT  sebagai wilayah sumber ternak nasional, merujuk pada program pemerintah setempat yang menargetkan populasi satu juta sapi pada 2018. Sejalan dengan itu, tren pertumbuhan jumlah populasi sapi NTT dalam tiga tahun terakhir cukup menggembirakan, dan diyakini akan segera mencapai target populasi satu juta sapi pada tahun 2017.

     

    Saat ini populasi sapi NTT, menurut penuturan Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dany Suhadi  yaitu 902.000 ekor dari 865.000 ekor pada tahun sebelumnya, ini berarti naik 20% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2014 lalu. Pencapaian tersebut merupakan yang cukup tinggi dalam skala provinsi. Apalagi, NTT memiliki dua jenis sapi yang sangat diminati seluruh rakyat Indonesia yaitu Sapi Bali dan Sapi Sumba Ongole yang di Indonesia, hanya dihasilkan di Pulau Sumba.

     

    “Tahun ini kuota pengantarpuluan kita 56 ribu ekor, Kita tetap berkoordinasi dengan kabupaten yang mempunyai otoritas terkait penjualan sapi. Dengan kuota sebesar itu, saya yakin untuk kebutuhan di DKI Jakarta bisa terpenuhi, belum lagi ada pasokan dari Lampung,NTB, Bali, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Hanya saja yang menjadi sorotan saat ini adalah NTT yang dianggap sebagai provinsi penghasil ternak  karena polanya yang berbeda yakni ekstensifikasi,” jelasnya.

     

    Nah, untuk itu. tambahnya, peran kabupaten yang kita inginkan bagi pengembangan ternak, kemudian bagaimana kita memulai membisaakan diri untuk pola substitusi kebutuhan, dari daging sapi ke daging lain dan pemotongan betina produktif harus bisa dibatasi.

     

    Bagai menempuh sebuah perjalanan. Kerja sama tersebut melewati jalan berliku yang membutukan energi dan waktu untuk mencapainya. Kini harapan itu ada di tangan PT Flobamor.  **


     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.