• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 07 April 2020

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Paham Radikalisme tidak Pernah Mati
    ALBERT VINCENT REHI | Jumat, 20 Mei 2016 | 13:06 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Paham
    Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) NTT, Sisilia Sona

     

    KUPANG, FLOBAMORA.NET -  Paham radikalisme yang dianut sejumlah organisasi tidak pernah mati, walau telah dinyatakan sebagai paham terlarang. Pergerakan paham radikalisme pasti akan muncul kembali setelah beberapa tahun dinyatakan sudah tidak ada lagi.

     

    Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) NTT, Sisilia Sona sampaikan setelah Dialog Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) NTT bersama tokoh agama tokoh masyarakat dan tokoh pemuda di aula kantor itu, Kamis (19/5).

     

    Sisilia menjelaskan, fenomena yang terjadi terkait pengaruh paham radikalisme adalah ketika mendapat perlawanan dari pemerintah dan semua elemen masyarakat, maka mereka mengambil sikap untuk melemah. Dalam kondisi tersebut, mereka mengumpulkan kekuatan dan menyusun strategi pergerakan. Sehingga pada suatu waktu, mereka akan muncul kembali dengan paham yang sama.

     

    Dia menyampaikan, salah satu paham radikalisme yang kembali muncul adalah paham komunis. Walau secara organisasi sudah dibasmi pada tahun 1965 lalu, tapi sekarang tumbuh lagi. Bahkan di NTT, orang yang menganut paham komunis ditaksasi mencapai 3. 000 orang. Sebagian dari mereka saat ini mulai muncul dengan memakai baju kaos bergambar tokoh komunias dan memasang atributu di sejumlah titik atau daerah.

     

    “Mari dengan kemampuan yang kita miliki dengan melibakan semua elemen mengantisipasi berkembangnya paham radikalisme di daerah ini,” kata Sisilia.

     

    Mantan Sekretaris DPRD NTT ini menyatakan, pada prinsipnya pemerintah terus melakukan berbagai kegiatan untuk mengantisipasi gerakan paham radikal. Kegiatan yang dijalankan pada kesempatan untuk mengatahui sejauhmana peran tokoh agama menyikapi fenomena yang terjadi terkait radikalisme dan atribut paham komunis. Persoalan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga semua tokoh agama bersama umatnya masing- masing.

    “Memang semua agama sudah melakukan berbagai kegiatan menyikapi paham radikalisme, tapi harus membangun sinergi yang melibatkan semua pihak. Pemerintah pun tetap melakukan berbagai agenda sosialisasi sehingga masyarakat paham tentang radikalisme dan bisa bersikap ketika ada pihak yang mengajarkan paham radikal,” papar Sisilia.

     

    Pada kesempatan itu, Sisilia menyebutkan tiga rekomendasi yang dihasilkan dalam Dialog Forkopimda bersama tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda. Satu, realitas masyarakat NTT yang saat ini cukup aman, kondusif, dan bekerja keras untuk terus merawat kerukunan dan bertekad untup tetap menjaga persatuan dan kesatuan, memelihara keharmonisan kebangsaan, untuk tetap menjaga suasana damai dan rukun serta mewaspadai pihak- pihak yang ingin mencederai/mengganggu kerukunan yang indah yang telah terjalin dengan baik selama ini.

     

    Dua, Pemerintah dan masyarakat NTT dengan tegas menolak paham radikalisme, terorisme, dan khususnya paham komunisme yang akhir- akhir ini menyita perhatian karena sangat bertentangan dengan idiologi Pancasila dan kepribadian Bangsa Indonesia.

     

    Tiga, mencermati posisi strategis NTT sebagai daerah yang memiliki banyak pintu masuk perlu meningkatkan kerja sama yang sinergis dari semua elemen masyarakat untuk dapat mencegah secara bersama semua konflik yang mengancam persatuan dan kesatuan warga negara Indonesia sebaga sesama warga Negara Indonesia.

     

    Romo Dioses (RD) Octo Naif menyampaikan, dunia kacau karena orang mengubah predikat dari seharusnya hidup berdampingan secara damai. Padahal semua agama termasuk Katolik berjuang agar hidup secara aman, damai dan tenang yang bernuansa pada toleransi.

     

    Memang, kata dia, bicara toleransi butuh waktu yang panjang dan kesabaran. Toleransi bukan soal yuridis, tapi masalah keutamaan. Karena itu, butuh kematangan moral dan spiritual untuk mewujudkan toleransi hidup antarumat beragama.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.