• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 16 Januari 2021

     
    Home   »  Nasional
     
    Jokowi Bicara Kestabilan Ekonomi dan Potensi Konflik di Asia
    ANA DEA | Jumat, 27 Mei 2016 | 15:36 WIB            #NASIONAL

    Jokowi
    Presiden Joko Widodo saat menghadiri penutupan Musrenbangnas di Istana Negara,Rabu (11/5/2016). Biro Pers lstana

     

     

    JAKARTA - Presiden Joko Widodo menjadi pembicara utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-7 Outreach di Ise-Shima, Jepang, Jumat (27/5/2016).

     

    Dalam kesempatan itu, Jokowi membahas stabilitas dan kesejahteraan Asia.

     

    Jokowi mengawali pidato dengan membahas kawasan Asia Pasifik yang terbilang lebih aman dibandingkan kawasan lain.

     

    Tidak heran jika pada 2016-2017, kawasan Asia diprediksi mengalami pertumbuhan ekonomi lebih baik, yakni sekitar 5,3 persen dibandingkan rata-rata dunia sebesar 3,2 persen.

     

    Jokowi pun mencontohkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri.

     

    "Di tahun 2015, ekonomi Indonesia kuartal terakhir tumbuh 5,04 persen," ujar Jokowi sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis Tim Komunikasi Presiden, Jumat.

     

    Menurut Jokowi, potensi perkembangan Asia masih besar. Mengutip proyeksi Asian Century 2050, Jokowi mengatakan, Asia akan menghasilkan PDB sebesar USD 174 triliun atau 52 persen PDB dunia.

     

    Sebagai bagian dari Asia, Indonesia pun diyakini berkontribusi ke dalam angka tersebut.

     

    Keyakinan Jokowi itu bukan tanpa alasan. Saat ini, lebih dari 50 persen penduduk Indonesia berusia di bawah 29 tahun.

     

    Indonesia pun masih memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Kedua hal itu menjadi dasar keyakinannya.

     

    Menjaga Perdamaian Asia

    Di tengah potensi-potensi itu, Jokowi juga mengingatkan agar perdamaian dan stabilitas kawasan Asia tetap mesti dijaga. Negara-negara di Asia harus mengupayakan hal itu.

     

    Potensi konflik yang tinggi, misalnya di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea, mesti dikelola dengan baik. Artinya, penyelesaian secara damai harus menjadi pilihan utama.

     

    "Penyelesaian militer atau penggunaan kekerasan justru akan menumbuhkan kekerasan lainnya. Seperti ekstremis bahkan krisis kemanusiaan," ujar Jokowi.

     

    Jokowi sekaligus menekankan posisi Indonesia yang tidak ingin Asia menjadi area konflik atau ajang "power projection" negara-negara besar.

     

    Data menunjukkan, kekerasan selalu berimbas pada kerugian. Tahun 2014, kerugian global akibat kekerasan bersenjata mencapai USD 14,3 triliun atau 13,4 persen dari PDB dunia.

     

    "Indonesia siap menjadi motor terciptanya Asia dan dunia yang damai dan sejahtera," ujar Jokowi.

     

    Dalam penyampaian pidato tersebut, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bertindak sebagai moderator. Adapun, Presiden Jokowi hanya didampingi oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.


     


    Sumber: nasional.kompas.com
    URL SUMBER




    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2021 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.