• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 01 Oktober 2020

     
    Home   »  Travel
     
    Tour de Flores, Inspirasi Indahnya Sunset Pariwisata
    YOSS GERARD LEMA | Selasa, 07 Juni 2016 | 13:52 WIB            #TRAVEL

    Tour
    Pebalap peserta TdF

     

     

    BANGSA PORTUGIS menamakan Flores sebagai Pulau Bunga. Pulau yang indah dan menawan.Semula saya mengira nama itu karena Flores banyak bunga, ternyata tidak. Bangsa Portugis menamakan Flores karena panorama bawa lautnya luar biasa indah.Terumbu karang dengan ikan aneka warna dilukiskan sebagai yang terindah.Selanjutnya Portugis menandai sejarah keberadaannya dengan menyebarkan agama katolik di Sikka dan Larantuka.Dari kedua daerah inilah agama katolik menyebar merata ke seluruh penjuru Flores dari timur hingga ke barat.Tak berlebihan jika Flores kemudian dijuluki sebagai Gerbang Vatican Indonesia.

     

    Ini berarti orang Flores dari larantuka di ujung timur hingga Manggarai di ujung barat sesungguhnya telah terbiasa dengan kehadiran bangsa eropa.Mereka adalah para misionaris yang terdiri dari pastor, suster, bruderyang berdatangan dari banyak negara seperti Portugis, Belanda, Inggris, Jerman, Belgia, Denmark, Polandia, dll.Misinya, membawa berita Cinta Kasih sebagai inti iman katolik seperti yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus.

     

    Bila dulu mereka datang sebagai misionaris maka kedatangan berbagai bangsa ke Flores dalam tahun-tahun belakangan ini dilatari berbagai alasan.Salah satu yang paling menonjol adalah sebagai wisatawan.Tak bisa dipungkiri setiap jengkal tanah di Flores memiliki daya tarik luar biasa.Dulu, ada tiga obyek wisata yang selalu menjadi kebanggaan.Pertama, binatang purba komodo di Pulau Komodo, Manggarai Barat.Binatang ini sejak lama menjadi keajaiban yang menggundang wisatawan untuk bertandang.Kedua, danau tiga warna Kelimutu di Ende menjadi buah bibir di dalam dan luar negeri karena keunikannya.Ketiga, tradisi suku Lamalera di Lembata dalam menangkap ikan paus secara tradisional mengundang kekaguman banyak wisatawan.

     

    Ternyata wisata Flores bukan cuma ketiga obyek tersebut diatas.Obyeknya seabrek-abrek.Terlalu amat banyak. Pantai pasir putih nan indah, di semua kabupaten pasti ada banyak dengan keindahan diatas rata-rata. Tapi yang paling menonjol adalah Pink Beach yang terdapat di Manggarai Barat. Warna merah muda pada bibir pantai seperti lintasan permadani pink yang senantiasa membakar gairah wisatawan untuk berendam dan bercinta layaknya adam dan hawa. Konon, pink beachyang luar biasa indah ini hanya terdapat di tujuh negara yaitu Indonesia, Bermuda, Filipina, Italia, Yunani, Bahamas dan Karibia.

     

    Obyek lain yang mengagumkan bertumpu pada akar budaya, seperti rumah adat, acara-acara adat, proses pembuatan kain tenun ikat, tarian, kuliner khas lokal, lagu-lagu tradisional, dll. Dan yang tak boleh dilupa adalah ritual Samana Santa dalam rangkaian perayaan Paskah di Larantuka kota renha,  merupakan warisan bangsa Portugis yang telah bertahan selama 500-an tahun. Sehingga berjalan keliling Flores dari ujung timur hingga ke ujung barat seperti kita sedang menapak diatas lukisan kanvas  kaya warna karya para maestro. Flores adalah sunset pariwisata yang senantiasa menampakan warna-warni keindahan seindah puisi cinta,seabadi kembang edelweisdi puncak gunung ebulobo dan pocoranaka.

     

    Tour de Flores

    Itulah Flores Pulau Bunga. Pulau yang kini tercatat dalam peta pariwisa dunia.Karena di pulau seluas 14.300 km2 ini terdapat sejuta keajaiban alam. Maka ketika Tour de  Flores pertama kali digelar pada 18-23 Mei 2016 yang lalu, diikuti 20 tim pebalap sepeda internasional dan 2 tim pebalap sepeda nasional, tentu seluruh mata dunia di lima benua tertuju pada pulau yang memiliki seribu menara gereja dan lonceng yang senantiasa berdentang dari kapela-kapela mungil.Melalui siaran televise so pasti akan ada imam-imam berusia lanjut di eropa, yang dulu pernah bertugas di daratan Flores, jadi terkenang pada tanah yang pernah menyusu dan menggendongnyadi waktu lampau.

     

    Apalagi ketika menyaksikan antusias ribuan masyarakat Flores memadati kiri kanan ruas jalan guna menyambut sekitar 200-an pebalap dalam dan luar negeri berpacu diatas aspal licin membuat para imam tua ini sejenak bernostalgia ke masa silam. Terbayang dirinya sebagai misionaris katolik berjubah putih  berjalan kaki naik turun gunung, atau bersepeda di jalan berdebu-berbatu-batu atau menunggang kuda menyisir punggung pebukitan untuk mempersembahkan kurban misa di desa-desa terpencil. Sebab orang Flores sejak dulu selalu identik dengan biara, seminari-seminari, pendidikan katekis, guru-guru, klinik dan rumah sakit, atau menjadi ambaks professional yang terampil membangun gedung.

     

    Karena itu kesuksesan Tour de Flores hendaknya menjadi permenungan mendalam bagi para pengambil keputusan di level propinsi, maupun kabupaten se-daratan Flores (Gubernur, Bupati dan DPRD se-Flores) untuk memaknai Tour de Flores sebagai bentuk komitmen kuat Pemerintah Pusat di Jakarta terhadap rencana besar pengembangan pembangunan  pariwisa di seluruh bumi Flores.   

     

    Ini berarti Tour de Floresmesti dipandang sebagai entri point,sebagai gerbang pembuka untuk masuk kedalam relung jiwa keunikan pariwisata di setiap kabupaten di Pulau Flores.Karena itu bobot Tour de Floressemestinya sama dengan Sail Komodo yangjuga difasilitasi Pemerintah Pusat. Lihatlah apa yang kini terjadi di Kota Labuan Bajo hari ini, apa pula yang terjadi dengan pulau-pulau kecil di di sekitar pulau Komodo. Ribuan wisatawan dalam dan luar negeri menyerbu Labuan Bajo, menyerbu Pulau Komodo sambil menghamburkan mata uang dolar bagi kemakmuran rakyat Flores.Coba bayangkan, binatang purba dengan bentuk wajah buruk itu memiliki nilai ekonomi tinggi bagi kesejahteraan segenap rakyat Flores.

     

    Ingat, Sail Komodo pertama beberapa tahun silam, menjadi gagasan awal berdirinya sejumlah hotel bintang di bibir pantai terindah Labuan Bajo. Seiring meningkatnya arus kunjungan wisatawan yang tumpah dari Bali dan Mataram memaksa jumlah hotel pun  bertambah. Artinya, lapangan kerja bagi warga lokal terbuka luas, unit-unit bisnis pun semakin beragam, membawa dampak positip bagi peningkatan kesejahtaraan warga lokal seiring dengan mengalirnya mata uang dolar.

     

    Oleh karena itu, Tour de Flores tidak boleh dilihat sebagai hajatan pemerintah pusat.Event hebat ini mesti dilihat sebagai ‘celah’ yang diberikan Pemerintah Pusat untuk mendukung orang daerah berkreasi.Bupati, DPRD dan Dinas Pariwisata sebagai ujung tombak di bidang pariwisata secepatnya mesti menemukan kekhasan dan keunggulan-keunggulan daerahnya. Sebisanya meramu semua potensi tersebut, mendandaninyamenjadi kemasan wisata menarik, berkelas dan  pantas untuk memasuki pasar wisata dunia.

     

    Sejarah perjalanan gereja katolik di pulau Flores menurut saya layak diangkat ke permukaan dan diperlihatkan kepada dunia.Kita juga punya adat istiadat yang khas dan pantas untuk diperkenalkan ke pasar wisata. Kita punya proses menenun tenun ikat dengan motif sakral yang diwariskan nenek moyang dari generasi ke generasi. Sanggar Lepo Lorun di Sikka pimpinan Alfonsa Horeng sukses memperkenalkan kain tenun ikat Sikka sebagai maha karya yang dikagumi wisatawan dalam dan luar negeri. Di sanggar ini seluruh proses tenun ikat tetap mempertahankan keaslian, termasuk menggunakan kapas dan pewarna alami.

     

    Sebagai catatan bahwa Tour de Flores kemarin diakui berhasil memberi sumbangan pendapatan bagi masyarakat di sepanjang rute yang dilalui, yaitu sekitar Rp 2,9 triliun. Konon, sekiranya Tour de  Flores  menjadi agenda tahunan, maka proyeksi pendapatan dari Tour de Floresuntuk dinikmati masyarakat secara langsung hingga tahun 2020  mencapai angka Rp 16,3 triliun. Suatu angka yang sangat optimistis.

     

    Atas dasar kesuksesan tersebut maka Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi yang hadir saat event Tour de Flores berjanji akan kembali menggelar peristiwa olah raga bergengsi ini pada tahun 2017 mendatang. Ini berarti Tour de Floressudah pasti menjadi agenda tahunan. Keputusan kedua menteri ini mendapat dukungan penuh Gubernur NTT Frans Lebu Raya  dan petinggi Lippo Group, serta Bank Mandiri yang menjadi sponsor acara tersebut.

     

    Masyarakat Pariwisata

    Dengan adanya Tour de Flores sebagai agenda tahunan balap sepeda level internasional yang melintasi se-antero pulau Flores dari timur hingga ke barat, menempuh jarak lebih dari 700 km maka suka atau tidak suka Flores telah menjelma menjadi kawasan wisata dunia. Ia menjadi lokasi wisata yang masuk dalam peta travel biro nasional dan internasional. Kondisi ini  menuntut perhatian lebih dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupatense-Flores untuk membenahi infrastruktur seperti perbaikan ruas jalan yang rusak, jaminan listrik yang benderang sepanjang waktu, air minum yang selalu mengalir, fasilitas kesehatan yang memadai, layanan restoran/rumah makan/bar yang bersih, serta penerimaan masyarakat yang senantiasa ramah, sopan, santun, serta murah senyum.

     

    Ini berarti kedepan tugas besar adalah  menselaraskan manusia Flores dalam hingar bingar bisnis pariwisata dunia. Manusia Flores harus sadar wisata, tau apa yang dimaui setiap wisatawan yang datang ke daerahnya. Sejujurnya, semua ini bukan menjadi kendala berarti, sebab selama ini wisatawan yang mengunjungi Flores sudah tak terbilang jumlahnya. Namun memasuki babak baru ketika Tour de Flores  menjelma menjadi ajang promosi akbar pariwisata maka dukungan semua stakeholder di daerah seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh budaya, kaum muda, kaum perempuan, dll adalah wajib. Ini pekerjaan raksasa sehingga semuanya mesti saling bergandengan tangan.

     

    Sebab dalam era globalisasi sekarang ini, dimana teknologi informasi dan teknologi perhubungan darat, laut dan udara menjadi panglima, jualan utama kita dalam bisnis pariwisata adalah keanekaragaman budaya kita.Inilah titik kuat yang kita miliki, sebab kita punya banyak hal menarik tentang budaya yang bakal membuat wisatawan terkesima.Tutur adat tetua adat, sesajen, bau dupa dan menyan, irama gong gendang, tarian massal, sirih-pinang-kapur, aroma moke, darah hewan dan batu altar persembahan adalah sakral, sebagai penghormatan kepada Wujud Tertinggi.

     

    Pada simpul inilah, Tour de Flores seharusnya menjadi ilham dan inspirasi bagi pemerintah, para akademisi di kampus-kampus dan berbagai stakholeder lainnya untuk mengajak masyarakat adat di seluruh bumi Flores untuk  menghidupkan kembali ritual-ritual warisan leluhur yang selama ini terpendam.Ritual musim tanam dan ritual musim panen, semua daerah memiliki kekhasannya. Ritual melihat masa depan setiap pribadi atau kelompok suku (masyarakat)tertentu dengan mengamati usus babi atau usus ayam menggambarkan dalam kehidupan ini terdapat keterpaduan antara manusia, alam dan Wujud Tertinggi.  

     

    Karena itu mempersiapkan orang Flores menjadi masyarakat pariwisata merupakan sebuah keharusan dan tak boleh ditawar-tawar. Sebab event sekelas Tour de Flores tidak boleh hanya memberi keuntungan  finasial secara sepihak kepada panitia yang datang dari Jakarta atau Bali atau NTB, sebab yang utama dari pagelaran Tour de Flores seharusnya memberi kemakmuran dan kejayaan bagi masyarakat Flores. Oleh karena itu, secara politik rakyat Flores mesti cerdas memilih pemimpinnya, yaitu bupati/wakil bupati, serta barisan anggota DPRD. Mereka haruslah orang-orang yang paham akan trend hari ini, dimana pariwisata telah berkembang menjadi leading sektor. Sementara sektor lainnya diarahkan sebagai pendukung suksesnya pembangunan pariwisata.

     

    Demikian pula halnya para bupati di daratan Flores agar menempatkan seorang pimpinan SKPD, khususnya pada sektor pariwisata/budaya hendaklah seorang dengan backround pendidikan pariwisata. Paham akanperkembangan dunia pariwisata, kreatif, inovatif, kaya gagasan, mampu menggerakan pelaku bisnis pariwisata ke fokus yang sama. Sudah bukan eranya lagi ketika menempatkan seorang pimpinan SKPD karena yang bersangkutan dinilai berjasa pada Pilkada atau karena ada hubungan darah atau karena yang bersangkutan rajin mencium tangan bupati dan setiap hari tanpa alasan yang jelas rajin bertandang ke rumah jabatan.

     

    Penekanan pada kapasitas pemimpin menjadi sangat vital sebab kedepan pembangunan pariwisata di Pulau Flores mesti dilakukan secara terpadu. Semua bupati di Flores bersama kepada dinas pariwisatanya harus duduk bersama, bicara bersama, menentukan langkah bersama demi masa depan rakyat Flores. Kata orang bijak: “Bersama kita bisa. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi”.Tampaknya, kata-kata ini masih relevan untuk diterapkan. Semoga…!!!


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.