• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 31 Oktober 2020

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Menghapus Petaka di Ujung Musim
    BENE KIA ASSAN | Rabu, 08 Juni 2016 | 13:13 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Menghapus
    Panen Sorghum di Lembata

     

     

    WUAKERONG , desa kecil di Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata adalah satu dari sekian banyak desa yang tidak masuk dalam ‘zona aman’ kegiatan pertanian tahun 2016.

     

    Desa berpenduduk  500-an jiwa ini, malah masuk ‘daftar tunggu’ wilayah yang berpotensi rawan pangan. Untuk Kecamatan Nagawutung saja, hanya 6 desa yang selamat dari ancaman gagal panen. Dan Wuakerong bukan salah satu di antaranya.

     

    “Selama tiga minggu di Januari, hujan tidak ada. Baru turun setelah tanggal 23 Januari. Tapi sudah terlambat jadi petani tetap panen tetapi produktivitas menurun” jelas Siprianus Meru, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Lembata. Penjelasan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi bertajuk Mengantisipasi Potensi Rawan Pangan, yang dihadiri semua lembaga pemerintahan dan LSM di Kabupaten Lembata, 24 Februari silam. Rapat yang berlangsung di Kantor Bupati Lembata tersebut berujung simpulan bahwa jika sampai akhir Maret 2016, tidak ada hujan, maka pemerintah harus siap mendistribusikan bantuan pangan kepada masyarakat desa-desa yang mengalami kekeringan. Lembata siap menghadapi Darurat Pangan.

     

    Namun petaka yang nyaris muncul di penghujun musim hujan tersebut, mampu ditepis masyarakat Desa Wuakerong. Selasa, 10 Mei 2016, Wuakerong dengan bangga mengundang publik untuk menyaksikan Panen Perdana Sorghum Desa Wuakerong. Tidak tanggung-tanggung, sedikitnya 7 hektare lahan milik masyarakat ludes disulap menjadi ladang sorghum dan berhasil dipanen. Senyum penuh bangga terpancar dari wajah kaum ibu Wuakerong yang tampil cantik dengan balutan busana daerah pada momen panen perdana tersebut. Betapa tidak? Sorghum jenis Kawali dengan usia panen 2,5 bulan memang bukan tanaman pangan yang akrab dengan petani Wuakerong. Mereka lebih mengenal sorghum jenis lain yang disebut juga Wala Holo, dengan tinggi pohon mencapai lebih dari 2 meter dan masa panen hingga 4-6 bulan.

     

    Tetapi kepercayaan diri, komitmen dan kerjasama untuk mau ‘menginapkan’ sorghum di lahan-lahan kering mereka, kini berbuah sukses. Uniknya, sekitar 10 ton panenan sorghum tersebut adalah kerja keras masyarakat Dusun A Desa Wuakerong. Jika satu desa atau keseluruhan masyarakat Kabupaten Lembata sepakat membudidayakan sorghum, maka bukan tidak mungkin Lembata akan menjadi sentra budidaya sorghum. Tidak sia-sia pula upaya tim gabungan  Yaspensel Larantuka, Kehati Jakarta dan relawan PMI Kabupaten Lembata yang memperkenalkan dan mengajak masyarakat untuk menanam sorghum di bumi Lepan Batan.

     

    Sorghum ‘menetap ’ di Lembata

     

    Hasil maksimal yang diraih petani di tengah perubahan iklim yang berdampak minimnya curah hujan, kini memantik komitmen bersama untuk membudidayakan sorghum secara berkelanjutan di Kabupaten Lembata.

     

    “Masyarakat Wuakerong telah sepakat bahwa sorghum tidak hanya ‘menginap’ tetapi akan ‘menetap’ dan menjadi bagian dari anggota keluarga masyarakat Wuakerong,” tandas Vitalis Blitin, master of ceremony Panen Perdana yang disambut tempik sorak warga Wuakerong.

     

    Komitmen tersebut juga mendapat dukungan positif dari pemerintah Kecamatan Nagawutung dan DPRD Kabupaten Lembata.

     

    “Lahan Nagawutung sangat cocok dengan sorghum apalagi punya kandungan gizi yang penting bagi anak-anak. Pemerintah akan mendukung. Sebagai camat, saya sendiri juga akan minta bibit dan kembangkan di sekitar rumah jabatan. Pemimpin harus bisa jadi contoh bagi masyarakat, ” tegas Stanis Kebesa, Camat Nagawutung disambut gembira masyarakat.

     

    Tepukan tangan pun datang dari peserta panen perdana juga saat Ketua DPRD Lembata menyampaikan komitmen lembaga legislatif tersebut untuk membudayakan sorghum di Lembata

     

    “Momen hari ini menjadi alasan bagi kami (DPRD Lembata, red) dan pemerintah untuk memasyarakatkan dan membudayakan sorghum ke seluruh pelosok Lembata. ” tandas Ferdinandus Koda, Ketua DPRD Lembata.Legislator asal Kecamatan Ile Ape ini juga sekaligus mengundang petani seluruh Lembata untuk ‘studi banding’ sorghum di Desa Wuakerong.

     

    Mempertegas Kebinekaan Indonesia

     

    Sebelum Wuakerong, sorghum telah dikembangkan juga oleh petani Peusawa-Wowon Kecamatan Buyasuri. Selain itu, relawan Palang Merah Indonesia Kabupaten Lembata juga telah membudidayakan sorghum secara parsial pada beberapa desa di Kecamatan Atadei dan Kecamatan Nubatukan pada tahun 2015. Artinya, tanaman bernama ilmiah Sorghum bicolor ini terbukti cocok di hampir seluruh wilayah Lembata. Jauh sebelum itu, Sang Mama Sorghum Maria Loreta telah membumikan sorghum di hampir seluruh wilayah Flores. Itu berarti, keberadaan sorghum mempertegas kebhinekaan jenis tanaman pangan di Indonesia, serupa keanekaragaman suku dan ras di seantero Indonesia.

     

    “Lembaga Kehati atau Keanekaragaman Hayati Indonesia sangat peduli padakeberagaman yang ada di negeri ini. Kami ingin agar keanekaragaman ini harus tetap terjaga. Kami percaya bahwa tanaman juga banyak yang khas di setiap daerah.Tidak semua wilayah Indonesia harus ‘di-beras-kan’. Ada wilayah yang cocok dengan jagung. Dan wilayah ini sangat cocok untuk sorghum. Petani disini harus bisa membuat ini(pengembangan sorghum, red) menjadi keunikan wilayah ini dan terus berlanjut, ” tegas Muhamad Sembiring, Direktur Kehati Indonesia usai melakukan panen perdana bersama Ketua DPRD Lembata dan Camat Nagawutung.

     

    Pekerjaan menghapus petaka gagal panen yang kerab mendera petani tidak boleh selesai hari ini di Wuakerong. Masih terlalu banyak lahan kering di Lembata yang belum diolah. Sudah saatnya seluruh lapisan masyarakat menyadari bahwa tanaman pangan lokal serupa sorghum atau wata holo lebih adaptif dengan iklim dan tanah Lembata. Mengapa kita terus memaksakan semua lahan dengan tanaman padi dan jagung namun selalu mengeluhkan gagal panen?***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.