• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 21 September 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Melalui Sorghum untuk Pertobatan Ekologis
    BENE KIA ASSAN | Rabu, 08 Juni 2016 | 13:25 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Melalui
    Sorghum di Lembata

     

    UPAYA mengembalikan budidaya tanaman pangan lokal semisal sorghum atau wata holo di wilayah NTT yang kini mulai menuai hasil maksimal di sejumlah daerah di NTT, tidak terlepas dari peran serta berbagai kalangan. Salah satu di antaranya adalah Yayasan Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Larantuka (YASPENSEL).

     

    Lembaga pemberdayaan milik Gereja Katholik Keuskupan Larantuka ini sudah mendampingi para petani di daratan Flores dan Lembata sejak tahun 2013. Hingga Mei 2016 ini, sejumlah kelompok petani dampingannya sudah memanen puluhan ton sorghum, sebagai sumber daya hayati lokal yang kaya kandungan gizi dan cocok dengan iklim di wilayah tersebut. Panen raya sorghum 2 tahun berturut-turut di Dusun Likotuden Desa Kawalelo Kecamatan Demong Pagong Flores Timur cukup mumpuni mengantisipasi rawan pangan petani setempat. Kondisi serupa juga dialami petani Desa Wuakerong, Desa Peusawa dan Desa Wowon Kabupaten Lembata. Wata holo, tanaman pangan lokal yang populer di 70-an, kini dikembalikan kejayaannya.

     

    Kerja keras dan komitmen YASPENSEL untuk berjibaku mengembalikan kedaulatan pangan lokal, ternyata sejalan dengan komitmen gereja Katholikseluruh dunia yang mendukung keseimbangan ekologis dunia. Seruan tentang Pertobatan Ekologis tersebut, disampaikan Paus Fransiskus pemimpin tertinggi gereja Katolik dunia melalui sebuah suratnya yang berjudul LAUDATO SI, ON CARE FOR OUR COMMON HUMAN (Terpujilah Engkau Tuhan, Memelihara Bumi sebagai Rumah Kita Bersama), yang dipublikasikan secara resmi oleh Vatikan pada 18 Juni 2015.Komitmen gereja sebelumnya sudah muncul dari seruan Paus Yohanes Paulus II dalam sambutannya di Hari Perdamaian Dunia, 1 Januari 1990. Selanjutnya Paus Benediktus XVI juga memperkuat komitmen tersebut melalui ensikliknya Caritas in Veritate (2009).

     

    “Kembali ke pangan lokal yang kita (YASPENSEL,red) jalankan ini merupakan bagian dari Gerakan Pertobatan Ekologis tertuang dalam Ensiklik (Surat Paus sebagai Uskup Roma dan Pemimpin Gereja Katolik Dunia, red)  Paus Fransiskus yang berjudul Laudato Si. Ini adalah sebuah gerakan untuk membangun kesadaran manusia akan kekeliruannya dalam mengelolah alam. Perilaku seperti penggunaan bahan kimia hanya untuk meningkatkan hasil panen, membakar hutan dan eksploitasi hasil alam yang tidak terkontrol, membuat alam ini rusak. Pada akhirnya kondisi alam ini semakin menantang. Semakin sulit untuk dikelolah. Dan kita tetap masa bodoh. Sudah saatnya kita menyadari hal itu. Lalu kembali ke alam, menyatu dan selaras dengan alam. Karena alam adalah rumah kita ” jelas Direktur YASPENSEL, Romo Benyamin Daud, Pr.

     

    Upaya YASPENSEL dengan bermitra bersama sejumlah lembaga pemberdayaan lainnya. Sebut saja KEHATI Indonesia, Palang Merah Indonesia Kabupaten Lembata dan Perhimpunan Petani Pangan Lokal Flores-Lembata. Selain itu, dukungan personal juga datang dari sejumlah public figure seperti Anton Leumara dan Frans Wuhan. Keduanya anggota DPRD Kabupaten Lembata. Apalagi YASPENSEL memiliki Ibu Maria Loretha, tokoh perempuan yang gigih memperjuangkan kedaulatan pangan lokal. Figur yang satu ini bahkan lebih dikenal sebagai ‘Mama Sorghum’ dengan seabrek penghargaan nasional yang telah diraihnya dalam urusan pengembangan pangan lokal. Meski demikian, kemitraan yang lebih luas dan berkesinambungan, masih sangat dibutuhkan.

     

    “Ini (Pertobatan Ekologis, red) memang tidak mudah, Ama. Kalau kita mau ajak petani untuk bertani tanpa pupuk kimia, selaras dengan alam dan pake bibit lokal memang cukup sulit. Orang sekarang cari yang gampang. Ini khan orang sudah jalan melenceng jauh sekali. Dan kita berusaha tarik kembali ke jalan yang seharusnya. Tidak mudah tapi bisa dibuat kalau kita sama-sama,” jelas Paskalis Leumara, pensiunan guru asal Peusawa yang kini menghabiskan sebagian besar harinya di kebun sorghumnya yang terletak di Desa Wowon Kecamatan Buyasuri-Lembata.

     

    “YASPENSEL sangat membutuhkan dukungan semua komponen. Sudah ada KEHATI, Palang Merah dan beberapa kelompok lain. Tapi kita harapkan lebih banyak dukungan termasuk pemerintah. Tidak ada yang paling hebat untuk mengurus ini. Kita harus kerja sama-sama,” tegas Romo Benya.

     

    Sementara itu, Antonius Molan Leumara, tokoh pemuda sekaligus anggota DPRD Lembata yang ikut mendorong masuknya pengembangan Pangan Lokal sorghum ke Lembata, meminta pemerintah Kabupaten Lembata untuk segera tanggap dengan terobosan yang telah dilakukan YASPENSEL dan mitra lainnya itu.

     

    “Awalnya, saya bersama teman-teman di PMI Lembata memulai ini (pengembangan pangan lokal sorghum, red). Kita dorong sebagai salah satu upaya adaptasi terhadap perubahan iklim yang berdampak pada ancaman bencana yang sering dialami oleh petani kita. Yakni gagal panen karena minimnya curah hujan dan ancaman angin kencang. Tapi ternyata hal ini sangat luas cakupan dan dampaknya. YASPENSEL memandang dari sisi Pertobatan Ekologis. PMI dari perspektif pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim.

     

    KEHATI ikut ambil bagian karena itu berkaitan dengan melestarikan keanekaragaman hayati di daerah ini. Apalagi sangat bermanfaat secara ekonomis dan gizi bagi masyarakat. Saya dan beberapa teman di DPRD Lembata sudah ikut Kalau bisa teman-teman di eksekutif jangan tunggu lagi. Ini sangat relevan dan menjawab msalah gagal panan dan rawan pangan yang sering kita hadapi. Yang penting pemerintah atur dari sisi kebijakan, penganggaran, pengawasan dan monitoring. Soal teknis, itu bagiannya masyarakat,” tandas Leumara.

     

    Pertobatan Ekologis memang tidak mudah tetapi juga tidak utopis. Setidaknya ada tiga jenis pertobatan ekologis yang saling terkait dan berkelanjutan, yang perlu dijalankan manusia yakni pertobatan personal, pertobatan struktural, pertobatan simbolis.

     

    Pertama, Pertobatan Personal. Perilaku yag terkait pertobatan personal misalnya membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, penggunaan air secara efektif dan efisien. Para petani harus menggunakan pupuk organik.

     

    Kedua, Pertobatan Struktural. Ini dilakukan secara bersama dalam sebuah komunitas. Misalnya penanaman pohon di sumber mata air, penanaman pohon di sekitar rumah, sekolah atau tempat ibadah. Perilaku positif ini jika dilakukan secara bersama dan berkelanjutan maka akan membentuk habitusatau kebiasaan yang mendarah daging.

     

    Ketiga, Pertobatan Simbolis.  Langkah konkrit pertobatan ekologis misalnya membuat pohon Natal dari botol minuman bekas. Jenis ini lebih bersifat mengingatkan atau menggugah  kesadaran.

     

    Bumi adalah rumah kita. Tidak ada alasan untuk menjaga rumah kita sendiri.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.