• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 19 November 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Guru jadi Agen Human Trafficking?
    BENE KIA ASSAN | Senin, 27 Juni 2016 | 11:47 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Guru
    Seminar Pentingnya Informasi Migrasi Aman, Bahaya Traficking dan Perbudakan Modern di SMA PGRI Lewoleba Kabupaten Lembata

     

    LEWOLEBA, FLOBAMORA.NET - Benarkah seorang guru kini ikut menjadi agen kejahatan human traficking? Jika ini benar, maka celakalah generasi muda yang mempercayakan sebagian besar masa mudanya.

     

    INI adalah pernyataan Duta Anti Perbudakan Indonesia, Melanie Subono usai menyampaikan materi dalam Seminar Pentingnya Informasi Migrasi Aman, Bahaya Traficking dan Perbudakan Modern di SMA PGRI Lewoleba Kabupaten Lembata, Selasa, 14 Juni 2016.

     

    Melanie yang juga artis penyanyi rock itu menyatakan bahwa di banyak daerah di Indonesia, masalah human traficking semakin merebak karena pelibatan oknum guru sekolah sebagai agennya. Ini pula alasan yang mendasari Melanie dan Migrant Care gencar melakukan awarenes kepada generasi muda terutama para siswa sekolah termasuk di Kabupaten Lembata.

     

    “Kita bangun diseminasi dengan anak sekolah karena mereka iniah yang sering menjadi target orang yang akan diberangkatkan (sebagai TKI, red). Di banyak daerah, malah sebenarnya agennya (human traficking, red) adalah guru. Malah kadang-kadang belum selesai sekolah juga, anak-anak ini sudah direkrut(sebagai TKI, red). ” jelas Melanie Subono disela kerumunan para siswa SMA/SMK se-kota Lewoleba yang menjadi peserta seminar.

     

    Sementara itu, Saverpal Sakeng Corvando, Koordinator Program Buruh Migran YKS Lembata menambahkan bahwa semua orang termasuk guru punya peluang dan potensi kuat menjadi agen aksi kejahatan human traficking.

     

    “Tidak hanya guru. Tapi semua orang punya potensi untuk jadi agen human traficking. Dan biasanya tekanan ekonomi atau kurangnya penghasilan mempercepat kondisi itu. Guru boleh dibilang menjadi paling potensial, karena lebih sering bersama para remaja yang menjadi target utama human traficking. Memang sampai saat ini, di Lembata belum ada temuan kasus seperti itu. Kebetulan untuk urusan migrasi ke luar negeri, orang Lembata menggunakan pola migrasi mandiri. Artinya tidak melalui perusahaan/agen tetapi mengikuti keluarga yang sudah pernah keluar negeri, ” tegas Cor Sakeng.

     

    Selain Melanie Subono, sejumlah pembicara lain yang hadir yakni Anis Hidayat(Direkrut Migrant Care), Dian Wisnu (Wakil Indonesia untuk AICHR atau Komisi HAM antar pemerintah ASEAN), Elisabeth Nelson (Team Leader MAMPU) 

     

    Ketidakpastian atau minimnya penghasilan, menjadi salah satu pemicunya. Human Traficking memang menjadi kejahatan yang marak terjadi di Indonesia. Dian Wisnu, Wakil Indonesia untuk AICHR menyebutkan untuk wilayah ASEAN, Indonesia menempati posisi puncak untuk jumlah kasus human traficking. Ironisnya, sebagian negara anggota ASEAN lainnya justru menjadi destinasi human traficking.

     

    “Dalam wilayah ASEAN, penanganan human traficking telah disepakati menjadi hal wajib. Indonesia menduduki urutan pertama, paling banyak memiliki kasus ini, sehingga kita punya kepentingan yang sangat besar dalam urusan ini. Negara mendukung upaya penanganan ini, tetapi kita harus bisa mencegah penambahan jumlah kasus. Karena jika sampai di ujung atau penanganan korban, justru membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Makanya kita prioritas pada langkah pencegahan,” tandasnya.

     

    Seminar yang diselenggarakan Migrant Care dan YKS ini menurut Dian Wisnu merupakan strategi yang tepat dalam upaya pencegahan. “Anak-anak ini menjadi target pada penjahat human traficking. Apalagi anak-anak di daerah yang kesulitan akses informasi. Jadi kita harus sering komunikasikan dengan mereka. Di antara mereka juga harus sering bertukar informasi tentang hal ini. ” tambah Dina.

     

    Seminar tentang migrasi aman dan bahaya human traficking memang terbilang baru bagi generasi muda Lembata. Meski demikian, animo para siswa dalam mengajukan pendapat sangat tinggi. Salah satunya adalah Intan. Remaja 17 tahun yang duduk di bangku kelas XI SMAN 2 Nubatukan ini, mengaku sangat senang bisa mendapatkan banyak informasi berharga tentang bahaya human traficking.

     

    “Saya senang sekali karena bisa tahu banyak tentang modus-modus yang biasa digunakan pelaku human traficking. Apalagi ada informasi juga soal prosedur yang aman jika ingin bekerja di luar negeri, ” tegas pemilik nama lengkap Leonarda Sanli Intan ini optimis.

     

    Remaja yang sempat mempersembahkan beberapa lagu hiburan di akhir seminar ini juga khawatir dengan nasib sesama generasi muda yang tinggal di pedesaan karena tidak mendapat informasi seperti dirinya. Intan sangat mengharapkan pro aktif pemerintah untuk distribusi informasi hingga ke seluruh desa.

     

    “Kita diundang jadi bersyukur karena bisa tahu. Tapi kasihan teman-teman yang tinggal di desa. Kalau bisa pemerintah itu proaktif untuk sebarkan informasi seperti ini sampai ke desa-desa. Dan saya berharap teman-teman yang hadir di sini juga bisa pulang dan berbagi dengan yang lainnya” tambah Intan.

     

    Kurikulum Pendidikan

     

    Generasi muda adalah kelompok usia produktif pembangunan tetapi sekaligus rentang menjadi korban perdagangan manusia. Namun melihat animo lebih dari 600-an anak muda Lembata yang menghadiri seminar, tidak berlebihan jika pembelajaran tentang migrasi aman dan bahaya traficking, masuk dalam agenda tetap pembelajaran di sekolah.

     

    “Kita mengharapkan pembelajaran seperti ini harusnya masuk dalam kurikulum sekolah. Yach tahu sajalah pemerintah kita. Tapi daripada menunggu, yach mending kita mulai saja,” tegas Melanie Subono. Hal senada juga disampaikan Saverpal Sakeng Corvando.

     

    “Saat ini upaya advokasi ke pemerintah belum kita mulai. Tapi dengan animo siswa seperti hari ini, sudah seharusnya mulai direncanakan. Minimal langkah awal adalah inisiatif sekolah. Nah..untuk hal tersebut, menurut saya ada tiga poin pembelajaran yang perlu ditambahkan dan saling terkait. Yakni Human Traficking, HIV/AIDS dan Bahaya Narkoba. Ketiganya berkaitan. Human traficking menjadi pintu masuk HIV/AIDS dan Narkoba,” tambah Sakeng.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.