• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 16 September 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Lembata Darurat Abrasi
    BENE KIA ASSAN | Senin, 18 Juli 2016 | 14:33 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Lembata
    penanaman mangrove di lembata

     

    LEWOLEBA.FLOBAMORA.NET- embata  adalah sebuah pulau sekaligus satu kabupaten. Dalam Dokumen Kajian Risiko Bencana Multi Bahaya Kabupaten Lembata 2015-2020, luas Pulau Lembata mencapai 1.266,36 kilometer persegi. Pulau tersebut dibatasi pantai dengan panjang mencapai 354,66 km. (2015:27). Wilayah utara didominasi pantai yang landai sedangkan mayoritas pantai di bagian selatan bertopografi curam berbatu. Daerah pantai yang landai di utara menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang sejumlah vegetasi pantai seperti mangrove, tanaman pantai non mangrove dan tanaman Multi Purpose Tree Species/MPTS (Tanaman Multi Guna) seperti kelapa.

     

    Tanaman mangrove tumbuh subur dan tersebar di beberapa titik seperti Teluk Lewoleba, Teluk Hadakewa dan Teluk Balauring.

     

    Mangrove adalah salah satu vegetasi pantai yang punya manfaat baik untuk mendukung ekosistem pantai dan rantai makanan di kawasan pesisir maupun pencegah abrasi. Bahkan di beberapa wilayah pantai seperti di seputaran Tanjung Tuak Kecamatan Ileape, wilayah tutupan mangrove menjadi habitat lebah penghasil madu. Setiap tahun warga sekitar, dapat memanen madu dari lebah yang berkembang biak di kawasan hutan mangrove.

     

    Meski punya kontribusi positif bagi terjaganya ekosistem dan mendukung sumber penghidupan masyarakat, luasan hutan mangrove justru menunjukkan tren pengurangan. Dari data yang dikumpulkan Ikatan Alumni Tata Ruang (IATARA) Lembata diketahui bahwa selama kurun waktu 15 tahun (2000-2015) Lembata mengalami kehilangan hutan mangrove seluas lebih dari 305 hektar.

     

    IATARA juga menemukan bahwa selama 10 tahun terakhir, telah terjadi pengurangan garis pantai sejauh 3-5 meter sebagai dampak abrasi. Bahkan abrasi dan berkurangnya vegetasi pantai seperti mangrove, telah mengakibatkan intrusi air laut sehingga sebagian besar sumur milik warga yang tinggal di pesisir pantai Kota Lewoleba, sejak tahun 2010 mulai terasa asin.

     

    Sekretaris Umum IATARA, Anthonius Yosaphat Bruno mengatakan abrasi tidak hanya mengurangi wilayah daratan tapi juga telah mengakibatkan intrusi air laut.

     

    “Ini kondisi yang sudah meresahkan. Perilaku yang tidak terkontrol baik pengambilan air tanah, semenisasi atau betonisasi membuat muka air tanah berkurang. Apalagi untuk wilayah selatan, area hutan untuk resapan juga sangat sedikit. Ditambah lagi dengan intrusi air laut, maka air tanah yang sudah sedikit lalu kini terasa asin, ” tandas pemuda yang akrab disapa Uno itu.

     

    Save Mangrove Lembata

     

    Sementara itu, Bediona Philipus, angggota DPRD Lembata mengatakan bahwa lebih dari 1/3 tanaman mangrove di Kabupaten Lembata telah mengalami kerusakan. Fakta inilah yang mendorong Bediona dan sejumlah anggota DPRD Lembata untuk menginisiasi lahirnya Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Kawasan Mangrove Berbasis Masyarakat.

     

    Perda inisiatif DPRD Lembata tersebut mengatur dua kegiatan sekaligus yakni perlindungan dan pengelolaan mangrove.  

     

    Mangrove, menurut Bediona adalah punya peran penting untuk mendukung pelestarian berbagai biota laut terutama perairan teluk seperti Teluk Lewoleba..

     

    “Mangove itu hidup di dua ekosistem, semacam menjadi jembatan antara wilayah perairan dan daratan. Hutan mangrove juga menjadi tempat hidup bagi biota perairan dan makhluk hidup daratan. Dan mangrove sangat mendukung rantai makanan dalam ekosistem pantai. Apalagi untuk ekosistem di perairan teluk seperti beberapa teluk di Kabupaten Lembata. Keberadaan mangrove pesisir, menjadi jembatan antara daratan. Dan kalau mangrove ini terus-menerus dirusak, pada suatu saat laut kita ini akan kosong,” tegas Bediona.

     

    Lahirnya perda tentang mangrove menjadi dukungan bagi segenap aktivis ekologi yang concern dalam rehabilitasi kawasan pesisir. Di antaranya adalah relawan Palang Merah Indonesia Kabupaten Lembata yang sedang melakukan aksi budidaya mangrove di sekitar Pantai Waikilok dan Pantai SGB Bungsu Lewoleba. Aksi yang dimotori Kelompok Kerja Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim PMI Kabupaten Lembata ini melakukan budidaya mangrove untuk mencegah abrasi pantai yang menunjukan tren peningkatan. Selain itu, aksi juga dimaksud untuk memproteksi tanaman multiguna (MPTS/Multi Purpose Tree Species) semisal kelapa milik masyarakat yang tumbang akibat gerusan abrasi.

     

    “Kami melihat bahwa semakin hari semakin banyak tanaman kelapa di pinggir pantai yang tumbang karena abrasi. Padahal ini sumber penghidupan masyarakat. Apalagi pantai SGB Bungsu adalah tempat piknik masyarakat Lewoleba pada hari libur. Saat ini, tempat piknik terlihat makin sempit. Padahal ini tempat piknik yang murah dan paling mudah diakses. Saya berharap perda ini bisa memperlancar kegiatan kami” tandas Bernadus Beni, relawan PMI Kabupaten Lembata.

     

    Rehablitasi pantai yang dijalankan PMI Lembata juga menggunakan tanaman pantai non mangrove seperti pedada dan waru laut. Menurut Petrus Jelau Gabur, yang juga relawan PMI Lembata, penanaman tanaman pantai non mangrove juga dilakukan karena tidak semua pesisir pantai memiliki kandungan lumpur yang hanya cocok untuk tanaman mangrove.

     

    “Jadi selain mangrove, kami akan semai juga bibit tanaman pantai seperti waru dan pedada. Kami sudah identifikasi dan memang cocok. Dua tanaman itu banyak yang tumbuh di lokasi ini. Karena mangrove tumbuh di media berlumpur, tapi untuk tanah berpasir, harus pake tanaman pantai non mangrove, ” jelas sarjana Teknik Kimia yang akrab disapa Dodi itu.

     

    Saat ini, relawan PMI Lembata telah menyemai sebanyak 800-an bibit mangrove. Ini baru sebagian dari target yakni 2000 bibit. Dari jumlah tersebut, bibit mangrove  rencananya akan ditanam di sekitar muara sungai, sedangkan tanaman pantai seperti waru dan pedada akan ditanam di sekitar area piknik Pantai SGB Bungsu.

     

    Upaya budidaya mangrove yang digelar Beni dan relawan PMI lainnya, bermula dari kemitraan PMI Lembata dengan Wetland International dalam konsorsium Partners for Resilience sejak tahun 2012. Peningkatan kapasitas soal rehabilitasi pantai tersebut kini direplikasi relawan PMI Kabupaten Lembata untuk memproteksi hutan mangrove di teluk Lewoleba dan mencegah ancaman abrasi.  

     

    Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni Tata Ruang (IATARA) Lembata, Martinus Hekur meminta agar hasil kajian komunitasnya tentang rusaknya vegetasi mangrove, meningkatnya abrasi dan intrusi air laut harus segera disikapi oleh segenap pemangku kepentingan terutama Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Lembata.

     

    “Kami (IATARA) fokus untuk kajian. Kami berharap hasil kajian ini tidak sia-sia. Artinya teman-teman lain terutama Forum PRB Lembata harus bisa jadikan ini sebagai data pendukung untuk advokasi lebih lanjut. ” tandas Hekur.

     

    Martin yang juga inisiator terbentuknya IATARA pada 1 November 2014 ini, sangat apresiatif dengan FPRB Lembata yang baru dikukuhkan pada bulan Mei 2016 namun sudah mulai bekerja. Semisal, memimpin aksi penanaman mangrove di teluk Lewoleba pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, beberapa waktu lalu. Ia berharap aksi serupa bisa terus dilakukan dengan melibatkan lebih banyak komponen baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.

     

    Nasib hutan mangrove di Kabupaten Lembata yang kian hari terus punah, kini memiliki harapan untuk dilestarikan. Setidaknya selain adanya Perda Nomor 9 Kabupaten Lembata tentang Perlindungan Mangrove, aksi-aksi parsial juga sudah mulai dilaksanakan baik melakukan kajian maupun aksi mitigasi. Lembata adalah kabupaten sekaligus sebuah pulau. Perlindungan kawasan pantai adalah juga upaya memperkuat eksistensi Kabupaten Lembata.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.