• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 20 Oktober 2020

     
    Home   »  Travel
     
    NGGELA, MOZAIK LELUHUR DI KAKI KELIMUTU
    FERDINAND WATU | Selasa, 19 Juli 2016 | 10:31 WIB            #TRAVEL

    NGGELA,
    Kampung Nggela Foto : Nando Watu/ Flobamora.net

     

     

    Nggela nama yang diabadikan oleh leluhur untuk mengingatkan sosok seorang wanita, kini telah terpatri menjadi nama sebuah Desa di pesisir pantai selatan, 82 km dari Kota Ende. 

     

    KAMPUNG megalitik dengan pola pemukiman yang masih original, terdapat 17 rumah adat berpenghuni, dengan gaya arsitek tradisional khas Suku Lio, dibaluti oleh aktivitas wanita  penenun sebagai menu harian kaum hawa di kala siang menyapa raga menjadi daya pikat dan atraksi hidup yang menarik untuk ditelisik.

     

    Citarasa hidup yang dibaluti oleh rentetan ritual adat bulanan, ditambah dengan bentuk pemukiman yang meyerupai bulat elips, penuh dengan warisan leluhur dan kekayaan tradisi, menjadikan Nggela ibarat Mozaik leluhur yang penuh nilai dan kaya makna, tidak hanya untuk diwarisi namun juga wajib dilestarikan.

     

    Karena unik dan khas, Nggela yang ditempuh 2,5 jam dari Kota Ende ini telah menjadi medan peneliti pada pertenghan 70-an, sebut saja, Roy W. Hamilton  dan Ruth Barnes, yang meneliti tentang tenun ikat Nggela. Atau juga Willimj de Jong, yang lebih dari satu dekade hidup bersama warga Nggela untuk penelitiannya.  Tak luput pula bebarapa media dari media cetak dan televisi sudah nimbrung di pusaran kampung tradisional di bawah kaki Gunung Kelimutu ini bahkan liputan dengan menyuguhkan Si Bolang, bocah petualanganpun mewarnai  pemirsa Tras 7 beberapa waktu lalu.

     

    Nggela, kampung dengan jumlah penghuni 338 KK atau 1097 jiwa penduduk ini juga dikenal oleh wisatawan, setidaknya dari catatan jumlah pengunjung dari buku tamu Nggela E’xotik tahun 2014-2016 tertulis, ratusan wisatawan asing maupun domestik telah menginjakan kaki di kampung yang berada di bawah administrasi Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende ini.

     

    Atas pijakan keunikan, dan kekhasan, memberi citarasa yang berbeda, tampilannya menyejukan mata, ataraksinya menggugah rasa, budayanya patut dijaga, menjadi medan menarik untuk ditelusuri.

    Perkampungan Adat

    Pembentukan masyarakat ada Nggela, menurut data geneologis telah terjadi pada abad tujuh belas. Berdasarkan letak kampung yang sangat strategsi, pada dataran tinggi di pantai selatan, yang mudah dicapai dari laut, sedang sulit malalui jalan darat, maka sejak dahulu kiranya sudah ada pengaruh pengaruh aing, terutama dari Kolonialisasi Portugis. Menarik bahwa satu garis  keturunan memakai nama seorang imam portugis, ialah Amatus, yang kuburnya juga terdapat di dalam kampung. Selain itu masih terdapat senjata - senjata Portugis dan sebuah kemudi kapal yang mungkin terdampar di pantai Nggela.

    Nggela memperlihatkan masyarakat adat tradisional Orang Lio. Sebuah pusat kampung, di mana terdapat sebuah tempat kultus (kanga) dengan di depannya sebuah rumah pertemuan (keda) untuk tua tua kampung. Di sekelilingnya ada rumah rumah upacara (sa’o Nggua).

    Pada mulanya kampung Nggela dibagi atas empat dusun, di utara Dekoghele, di Barat, Bhisu One, di Timur Mbiri dan di Selatan, Embulaka.    Bhisu Deko Ghele adalah zona bagian utara yang merupakan zona paling awal menurut sejarah kedatangan nenek moyang masyarakat Desa Nggela. Dalam zona ini terdapat: Sa’o Labo, Sa’o Tua, Sa’o Meko, dan Sa’o Ame Ndoka. Terdapat pula empat buah rumah pendukung (Poa Paso) dan enam buah rumah penduduk. Selain itu, terdapat Kanga Ria (pelataran adat) yang merupakan tempat pelaksanaan upacara adat para Mosalaki. Di atas pelataran adat ini terdapat Tubumusu.  berupa sebuah batu lonjong dan sejumlah batu ceper serta kuburan Mosalaki Ine Ame dan Mosalaki Pu’u.Posisi zona yang berada di utara permukiman adat menunjukkan posisi tertinggi karena secara kosmologis wilayah utara adalah daerah paling sakral sebagai asal-usul nenek moyang. Posisinya yang berada di sebelah utara merupakan gerbang masuk ke permukiman adat, juga sebagai strategi pertahanan menghadapi musuh dari arah utara.

    Bhisu One merupakan zona yang berada di tengah-tengah atau pusat. Dalam zona ini terdapat: Sa’o Ria, Sa’o Pemoroja, dan Sa’o Ndoja, sebuah Poa Paso dan sebuah rumah penduduk. Terdapat pula Puse Nua yang merupakan titik pusat permukiman adat yang dilambangkan dengan sebuah batu lonjong dan sejumlah batu ceper. Terdapat juga sebuah kuburan yang berbentuk perahu (Rate Lambo) yang merupakan kuburan seseorang sebagai arsitek karena berjasa atas pembangunan permukiman adat yang masih dipertahankan sampai sekarang. Selain itu, terdapat batu-batu yang sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka yang tidak boleh disentuh ataupun diinjak karena dipercayai akan membawa kemalangan.

    Secara kosmologis, zona ini berada di tengah-tengah permukiman. Artinya,  tingkat kesakralan zona ini berada di bawah setelah Bhisu Deko Ghele. Dengan adanya  titik pusat permukiman, kuburan perahu, batu-batu keramat, maka ruang luar dalam zona ini juga tidak bersifat umum untuk masyarakat. Posisinya yang berada di sebelah barat permukiman berfungsi sebagai pertahanan, juga melindungi benda-benda keramat yang ada di sekitar halaman tengah permukiman adat.

    Bhisu Mbiri merupakan zona yang berhadapan dengan Bhisu One yang merupakan kumpulan masyarakat asli dan pendatang. Dalam zona ini terdapat: Sa’o Leke Bewa, Sa’o Wewa Mesa, Sa’o Sambajati, dan Sa’o Watu Gana, dan tujuh buah rumah penduduk, tidak ada Poa Paso. Sa’o Wewa Mesa merupakan salah satu rumah yang ada di awal kedatangan nenek moyang masyarakat Desa Nggela, namun posisinya berada di zona ini karena tugasnya untuk memantau ke arah selatan (ke arah laut) apabila ada kapal  asing yang hendak memasuki Pantai Nggela. Hal ini dapat dilihat dari orientasi rumah adat ini ke arah selatan yang berbeda dengan orientasi sejumlah rumah adat lain dalam permukiman adat ini.

    Bhisu Embulaka merupakan zona untuk kelompok masyarakat dari Portugis yang datang menetap di permukiman adat ini. Dalam zona ini terdapat: Sa’o Embulaka, Sa’o Bewa, dan Sa’o Tana Tombu. Sebuah Poa Paso dan tiga buah rumah penduduk, terdapat juga sebuah kayu peninggalan dari seorang misionaris dari Portugis. Kayu ini menjadi keramat karena tidak boleh disentuh.

    Ritual adat dalam lingkaran Waktu

     

    Ata Nggela (orang Nggela) masih sangat kuat mengikuti tata aturan tradisi adat nenek moyang dan leluhur yang sudah menjadi bagian dari pola hidup. Ketaatan pada tradisi menjadi sumber hidup dan falsafah harian, kesuksesan dan keberhasilan, suka duka dalam hidup  tercermian dari sejauh mana ata nggela menjaalankan berbagai ritual adat dalam lingkaran waktu. Dan berbagai ritual adat yang hingga kini masih dihidupi,

     

     Upacara Nggua yang dilaksanakan selama setahun sebagai berikaut (dari catatan mosalaki Pu'u, Y A Lerux Sare) :Upacara adat tahun 1961 / 1962 di Nggela : Ka Uwi  (Oktober), Wela Sambi ( November), Loa Telo ( November), Teke Gha'i Manu (November),Raga Gha'i (ae mopo kula kea)  -  (November), Paki Gha'i  (Desember),  Ata Waga Loa Telo di Sa'o Ria Nggela ( Desember), Lao Mba'o (katu nggala no'o mba'o)  (Februari), Ka Mera Kewe  (Februari),Todo Obo  ( Februari), Naka Lea Lo'o  ( Maret), Naka Lea Ria ( Maret), Koe uwi / Ka Kobho ( Maret), Wangga Jawa Ata Toba  ( Maret), Wangga Jawa AtaRrewo ( Maret), Pa'i Lolo  ( April), Toa Koli  ( April), Loka Lolo  ( Mei), Loka Pare  (Juni), Joka Ju ( Juni).

     

    Selai itu masih ada lagi tata upacara adat yang harus di laksanakan sesewaktu antara lain ; Kema Keda, Kema Sa'o Nggua, Wake Mosalaki,Tane Mosalaki Pu'u mata, Mure, Joka Nua, Joka Ule Mela, Nara Nio,Ra Nua, Nika Adat, Simo Ata Mai, Sewu Api Sa'o (Nua Nula) dan Loka Ae.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.